Penulis: Lia
PANGKALPINANG, TRASBERITA.COM – Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah negeri rumpun melayu yang cinta kedaiaman, dicirikan dengan karakter orang melayu yang selalu berunding, duduk sama-sama dalam menemukan solusi terhadap satu persoalan yang sedang dihadapi.
“Negeri Serumpun Sebalai itu, artinya adalah duduk bersama-sama. Semangat Babel negeri serumpun sebalai tidak hanya cukup dicirikan dari budaya nganggungnya saja,” ujar Sekretaris MUI Babel, Ahmad Luthfi, Kamis, (06/04/2023).
Lutfi menyebut, ciri orang melayu adalah bijaksana dalam mencairkan sebuah permasalahan, terlebih menyangkut kepentingan umat dan masyarakat luas.
Dalam setiap menyelesaikan suatu permasalahan maka harus ada mediator.
Peran umat atau masyarakat juga harus dilibatkan, supaya tidak semakin menimbulkan polimik yang tidak diinginkan dan dikhawatirkan akan menganggu bagi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di Bangka Belitung yang selama ini sudah berjalan harmonis dan kondusif.
“Makanya, dalam menyikapi banyaknya missinformasi ke daerahan yang berkembang saat ini di Babel, kami MUI Babel siap menjadi mediatornya, jika memang diperlukan. Namun sekarang semuanya kembali ke pemangku kebijakan. Apakah mau atau tidak melibatkan MUI,” ujar Ahmad.
Diakui Ahmad, selama ini keberadaan MUI Babel dianggap bukanlah pejuang, terlebih menyangkut pendirian Provinsi Babel.
“Dinilai tidak punya daya cengkraman lebih tinggi dibandingkan para elit yang selama ini memang senang mengklaim dirinya sebagai pendiri Babel,” sebut Lufhi.
Atas dinamika yang sedang terjadi saat di Bangka Belitung, Lutfhi berharap para elit Babel tersebut, masing-masing dapat menurunkan ego sektoralnya, supaya polemik yang terjadi tidak berkepanjangan dan dapat diselesaikan dengan penuh kedamaian.
”Orang melayu itu, kalau kepalanya yang panas, maka menyelesaikan harus dengan hati yang dingin ,jangan dibalik. Dan silahkan saja, kalau ada pihak-pihaknya yang juga mengkait-kaitkan ini jelang tahun politik 2024, bukankah politik itu artinya semakin banyak titik maka akan semakin menarik. Jadi semua akan tergantung juga kepada siapa yang memang memegang ceritanya,” tutur tokoh pendidikan senior Babel ini.
Ia berharap, polemik yang terjadi jangan dibuat berbelit-belit, karena dikhawatirkan justeru tidak ketemu-ketemu solusinya sehingga akan menimbuilkan image yang kurang baik.
“Babel dinilai tidak kondusif dimata masyarakar luar Babel, kalau Babel tidak aman, orang akan malas berinvestasi ke Babel,” ujarnya. (tras)







