Oleh: Meilanto
Pegiat Sejarah dan Budaya Bangka Tengah
BANGKA, TRASBERITA.COM — Dalam penelusuran beberapa peta tua seperti A Map of the island of Banca” by M. H. Court, London Fublished, 1 Aug 1821, by Black Kingsbury Papury & Allen, Kaart van het Eiland Banka zamengesteld in 1845 en 1846 door H.M. Lange, Kaart van het Eiland Banka (cartographic material) volgens de topograhische opneming in de jaaren 1852 tot 1855 karya L.Ullman, Map of the Island of Bangka Compiled from Remarks and Materials Collected during a Jurney Through the Island Annexed to a Report on the same and Addressed to the honourable Thomas Stamford Raffles ESQre Lieutenant Governor of the Island of Java and its dependencies by his most obedient servant tho. Horsfield. Cambai belum ditemukan.
Kata “Tjambai” baru ditemukan dalam peta tahun 1898. Dalam peta tersebut, sebelah selatan Tjambai ada kampung Djeloetoeng sebagai ibukota underdistrik Bukit.
Sebelah utara terdapat Ajermesoe. Sementara itu sebelah timur terdapat Selinta dan T. Lampoejang.
Sebelah barat gugusan G. Mangkol dan aliran sungai S. Lampoejang.
Pemukiman Cambai baru ditemukan dalam peta yang berjudul Djeloetoeng / opgenomen door den Topografischen Dienst in 1928-1929 dengan kode D D 30,20.
Peta yang diterbitkan di Batavia pada tahun 1931 ini berisikan topografi desa Jelutung.
Dalam peta ini juga digambarkan secara jelas topografi desa Cambai tertulis Tjambai.
Dalam peta ini rumah-rumah penduduk terletak dikiri dan kanan jalan raya yang menghubungkan Air Mesu dan Jelutung dengan kondisi jalan pada pemukiman relatif lurus.
Sebelah utara pemukiman kampung Tjambai arah Air Mesu terdapat tikungan (sekarang tikungan masuk ke SD 5 Namang) dan sebelah selatan terdapat Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Selanjutnya terdapat tiga buah jalan setapak (dua disebelah kanan jalan-dari arah Air Mesu-dan satu sebelah kiri jalan).
Jalan setapak yang pertama (sebelah kanan dari arah Air Mesu) jalan setapak mengarah ke perkebunan warga dengan melewati aik remban dan moentik (melewati footpath dan bridle path / jalan ke Bukit Kijang sekarang).
Jalan setapak yang kedua yaitu sebelah kiri jalan (dari arah Air Mesu) melewati footpath (jalan kaki) yang menuju ke bekas tambang timah (Disused Tin Mine / Jalan Silok sekarang).
Selanjutnya topografi Tjambai yaitu di ujung pemukiman warga arah ke Air Mesu terdapat unsurfaced Road (jalan yang menuju ke jalan raya) dan footpath (jalan yang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki) yang lurus melewati Air Aroengtemboes dan Air Aranglaoet sampai tembus lagi ke jalan raya yang menghubungkan Air Mesu dan Cambai.
Pada ujung utara pemukiman terdapat sebuah bukit (nama bukit tidak ditulis) dan sebelah selatan terdapat dua buah bukit (satu sebelah kiri dan satu sebelah kanan).
Sebelah kiri jalan terdapat jalan setapak yang menuju ke perkebunan.
Tempat pemakaman umum sudah terlihat sedangkan masjid belum terlihat.
Di sebelah utara Tjambai terdapat Gembaloeh Hill/ Bukit Gembaloeh (115 mdpl) dan MT. Toenggal/ Gunung Tunggal dimana Air Aroengtemboes, Air Aranglaoet dan Remban berhulu di kedua bukit dan gunung ini.
Di sebelah timur laut terdapat Lesong Hill/ Bukit Lesung.
Disebelah kanan jalan dari arah Air Mesu sebelum pemukiman terdapat rawa-rawa dan air Bakem yang mana airnya sebagian merupakan hilir dari Air Aroengtemboes, dan Air Aranglaoet.
Di bagian hilir Air Bakem terdapat tiga tambang timah. Di belakang pemukiman warga sebelah kanan jalan (dari arah Air Mesu) didominasi dengan tanaman karet (rubber) dan sedikit sugar palm (kabung) serta sebelah kiri jalan lebih bervariasi ada sugar palm, rubber, shrub /semak-semak.
Menurut Hapiz, jalan raya diujung Cambai tidak tidak seperti yang kita lewati saat ini.
Tapi pada tikungan (tikung ke SD 5 Namang) jalan lurus melewati Aroengtemboes sampai ke tikungan dekat pabrik air minum kemasan.
Gambar 2 Potongan Peta desa Cambai. Nomor 1 jalan lama dari tikungan dekat pabrik air minum kemasan melewati Air Aranglaoet – Aroengtemboes sampai tikungan dekat mushola simpang SD 5 Namang. Nomor 2 merupakan jalan baru yang saat ini telah menjadi ruas jalan nasional.
“Waktu agik kecit-kecit agik SD kami sering mandi di aik Arung tembus, aik e dalem, ade turun tebing curam kalo’ nak mandi, tu ge maling-maling jangen sampai tau orang tue kene daerah tu ret” (saat masih kecil seusia SD, kami sering mandi di Aik Arung Tembus, airnya dalam, ada tebing curam untuk sampai ke airnya, itu juga harus bisa membaca situasi jangan sampai diketahui oleh orang tua, karena daerah tersebut sangat angker), ucap Hapiz saat diwawancarai pada Jumat, 6 Juli 2018 pukul 17.00.
Kini, seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, ujung pemukiman pun bergeser.
Saat itu ujung utara kampung berada didekat tikungan masuk ke SD 5 Namang sekarang rumah warga sudah sampai ke pabrik air minum kemasan walaupun dari tikungan hilir Aik Aroengtemboes sampai ke tikungan pabrik air minum dalam kemasan mayoritas penduduknya beragama Konghucu sedangkan dari tikungan dekat simpang masuk SD 5 Namang sampai tikungan hilir Aik Aroengtemboes dihuni oleh penduduk beragama Islam.
Sistem Administrasi
Berdasarkan peta Belanda yang dibuat tahun 1928-1929 dan diterbitkan tahun 1931, sudah berdiri rumah-rumah warga.
Untuk mengatur sistem administrasi warga tentu harus memiliki seorang pemimpin yaitu kepala kampung.
Secara administrasi saat ini belum diketahui secara pasti tanggal dan bulan serta tahun kejadiannya. Perlu kajian lebih mendalam.
Menurut para tetua kampung, Cambai dan Jelutung merupakan satu desa dengan cakupan wilayah sangat luas meliputi Tanah Merah, Bukit Lesung dan Batu Kijang dan Kayu Besi.
Pusat pemerintahan yang dibuktikan dengan kantor kepala desa berada di Cambai.
Namun seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, kedua wilayah ini menjadi desa yaitu Desa Cambai dengan dan Bukit Lesung serta Bukit Kijang.
Sementara itu Jelutung dengan wilayah meliputi Tanah Merah.
Berikut nama-nama Kepala Desa Cambai (Cambai Jelutung) : Abdul Gani, Abdul Rahman, Maliki, Samsu Yahya, Nurila H. Musa (kadus Jelutung), Samsu Yahya, Hatamarrasyid, Iwan, Darmansyah dan Anti Maryono.
Toponimi
Ada beberapa versi mengenai toponimi Cambai yaitu:
Tumbuhan Cambai (Piper betle L)
Mengutip toponimi dari Bangka Tengah dalam Harmoni Kata (sejarah, Trademark dan slogan Desa/Kelurahan/Kecamatan) dikatakan bahwa nama Cambai diambil dari sebuah tumbuhan sejenis sirih yang bernama cambai (Piper betle L.).
Nama tumbuhan yang bernama cambai inilah yang kemudian dijadikan nama desa karena tumbuhan ini dahulu tumbuh di daerah ini sehingga kekhususan ini selalu diingat masyarakat luar dan dengan kesepakatan para warga desa inipun diberi nama Cambai.
Selain itu ada juga versi lain mengatakan cambai berasal dari kata Djambei yaitu sejenis tanaman yang berarti pinang. (*/tras)







