Pangkol dalam Kisah Peta Buatan Belanda

Oleh: Meilanto
Pegiat Sejarah dan Budaya Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Dalam peta buatan Inggris (tahun pembuatan tidak dicantumkan), pulau Bangka dibagi atas tiga divisi berdasarkan pembagian wilayah eksplorasi atau penambangan timah, yaitu bagian utara pulau Bangka (northern division), bagian barat pulau Bangka (western divison) dan bagian tenggara pulau Bangka (south east division).

Dalam peta ini, Pangkol tertulis Pangkool Riv. (maksudnya Pangkol River/ Sungai Pangkol) yang merupakan bagian dari divisi tenggara pulau Bangka (south east division).

Bacaan Lainnya

Secara geografi, sebelah utara Pangkool Riv. terdapat Selinta Riv. (sungai Selinta) dan diselatan terdapat Benoowang Riv. (sungai Benuwang/ perbatasan antara Kayu Bsi dan Baskara Bakti sekarang). Dalam peta ini,

Pangkol belum terbentuk sebagai kampung. Dalam peta ini terdapat enam sungai yang mengalir ke pesisir timur pulau Bangka arah selatan Pangkal Penang yaitu Messo Riv., Selinta Riv., Pangkool Riv. yang bermuara di pt. Oodshoong-goonoong (maksudnya Tanjunggunung), Benoowang Riv., Lempoojang Riv., dan Koorouw Riv. Dari sungai-sungai ini tampak jelas Pangkool Riv. yang paling panjang alirannya.

Pada peta juga tergambar jelas konektivitas berupa garis putus-putus yang lurus, mungkin jalur distribusi dan transportasi pengangkutan timah di distrik Pangkal Penang. (Elvian, 2016, 130).

Dalam peta Kaart van het Eiland Banka zamengesteld in 1845 en 1846 door H.M. Lange, Pangkol merupakan salah satu kampung dalam wilayah distrik Pankal-Pinang. Dalam peta tersebut tertulis Pankool.

Dari Pankal-Pinang ke arah selatan pesisir timur, sudah terhubung dengan jalan raya.

Kampung-kampung yang terhubung dari pusat distrik Pangkal-Pinang ke arah selatan diantaranya, Messoe – Selienta – Pankool – Lampoijang, – Moenjang.

Di kampung Moenjang terdapat persimpangan ke kiri yaitu ke Namen – Soenkap – Tjiloeak, Poepot – Kaates.

Selanjutnya terdapat persimpangan di Paret Trantang ke arah kiri ke Soengi Slan dan ke arah kanan ke Seraij sampai ke Pankal-Pinang.

Jalan terus dari Moenjang melewati sungai Koerow dan kampung Koerouw – Penjieak – Gontong – Koba dan seterusnya sampai ke Toboali.

Dari peta ini diketahui ruas jalan nasional sekarang yang menghubungkan Pangkalpinang sampai ke Koba baru terbentuk sampai desa Air Mesu (Messoe) dan belum ada jalan raya yang melintasi desa Cambai dan desa Jelutung karena kedua desa ini dalam peta tersebut belum tertulis.

Dan persimpangan ke arah Sungkap (seperti saat ini terdapat persimpangan Namang) justru terdapat di Moenjang.

Saat itu, jalan raya Pangkal-Pinang sampai ke Toboali melewati jalan pesisir timur.

Peta Kaart van het Eiland Banka (cartographic material) volgens de topograhische opneming in de jaaren 1852 tot 1855 karya L.Ullaman, sudah sangat bagus dan lengkap karena dibuat oleh L. Ullman, seorang militer berpangkat Letnan Dua, ahli topografi yang sengaja ditugaskan untuk pengukuran topografi di sembilan distrik di keresidenan Bangka setelah melaksanan tugas pengukuran yang sama di keresidenan Palembang. (Elvian, 2016, 144)

Dalam peta yang diterbitkan di Batavia tahun 1856 ini sudah tampak jelas pembagian distrik di pulau Bangka (terbagi menjadi sembilan distrik) dan batas-batas antardistrik yang ditandai dengan garis tebal biru muda.

Dalam peta telah tercatat beberapa nama kampung dalam distrik masing-masing.

Dalam distrik Pankalpinang salah satunya Pankal.

Secara geografis kampung Pankal berbatasan dengan S. Selienta disebelah utara dan Lempoejang disebelah selatan.

Kampung Tjiloek disebelah barat daya dan Zee van Borneo disebelah timur.

Terlihat jelas jalan yang menghubungkan antarkampung di distrik Pankal Pinang yang ditandai dengan tinta berwarna merah.

Dalam peta ini dari Pankal Pinang sampai ke koba dan Toboali masih menggunakan jalan pesisir timur.

Dari Pankal Pinang sampai ke Pankal melewati kampung Semabong – Messoe – Selienta.

Sementara itu terdapat jalan setapak dari Pankal Pinang sampai Pankal melewati Betor – Dal- G. Beboelah.

Peta dengan judul Djeloetoeng edisi bilingual edition ini (bahasa Inggris dan bahasa Belanda) dengan kode D D 33,23 diterbitkan tahun 1946 terdapat topografi beberapa kampung diantaranya Soengkap, Namang, Bililik, Djeloetoeng, Tjambai, Airmesoe, Sambong, Merangkan, Mesoe, Batoebeloebang, dan Soenghin.

Dalam peta ini Pangkol bukanlah sebuah perkampungan walaupun tertulis dalam peta.

Sama halnya dengan Djeohin, pada peta tertulis Djoehin tapi tidak ada pemukiman warga (pemukiman ditandai dengan warna hijau) Tergambar dengan jelas perempatan di daerah Pangkol dengan disused tin mine (bekas tambang timah) di dekat aliran Sintioeng, Benoeang, Djoehin dengan nomor tambang 15), dan Mesirak.

Untuk mencapai kawasan Pangkol dari Tjambai melewati aik Moentik (River unsurveyed/ sungai belum pernah disurvei), aik Remaning (River unsurveyed) melalui bridle parth (jalan setapak).

Untuk sampai ke jalan raya yang menuju Pangkol harus melewati embankment (tanggul/ jalan dibuat lebih tinggi). Begitu juga dari Pangkol menuju ke laut melewati embankment (tanggul) yang lebih panjang.

Dari sungai Sintioeng ke sungai Benoeang juga terdapat embankment (tanggul).

Selanjutnya untuk sampai ke kawasan Pangkol bisa melewati kampung Airmesoe dengan jalan grindweg (jalan besar berkerikil).

Sepanjang kiri kanan jalan didominasi oleh tananam rubber (karet) dan melewati aliran air Sapoeng sampai ke persimpangan ke kanan yang banyak ditumbuhi oleh shrub (semak belukar) yang menuju ke Mt. Toenggal (115) melewati air Atjoeng.

Dari persimpangan jalan lurus sampai ke Kajoebesi dan terdapat disused tin mine (bekas tambang timah).

Terdapat persimpangan ke kiri menuju ke Djoehin dan jalan lurus ke Remaning dengan air Batjang disebelah kirinya.

Pada persimpangan terdapat Post office / postkantoor/ kantor pos (kode bangunan 19).

Belok kiri melewati wegen welke onbegaanbaar zyn voor motor vervoer in de natte moeson (kode 15) dan tanggul (embankment) sampai ke perempatan Pangkol.

Jalan lurus melewati embankment dengan sungai Sintioeng dan Benoeang sampai ke perkebunan dan selanjutnya jalan setapak melewati sungai Kerandji sampai ke Lempuyang terus ke Bililik.

Simpang kiri menuju ke arah laut melewati jalan yang terdapat embankment disebelah kanannya.

Disisi timur laut Pangkol terdapat sungai Belioeng, Batoetabar dan Kebal.

Dari kawasan Pangkol dan sekitarnya setidaknya terdapat tujuh disused tin mine (bekas tambang timah) dan beberapa fish ponds (tambak ikan).

Di Mana Ada Timah, Di Situ Ada Pecinan Memasuki abad ke-18, beberapa kawasan d Bangka tumbuh menjadi kota tambang.

Kota-kota tambang itu pada umumnya dekat dengan pelabuhan.

Ada tujuh wilayah administrasi tambang kala itu antara lain Pangkalpinang, Klabat, Sungailiat, Merawang, Jebus, Belinyu, dan Toboali.

Disetiap lokasi tambang itu di dekatnya selalu terdapat pemukiman orang Tionghoa.

Maka, muncullah ungkapan yang kerap terdengar: di mana ada timah, di situ ada Pecinan.

Hal ini wajar, karena dalam pengelolaan tambang, orang-orang Tionghoa membentuk kongsi.

Mereka melakukan penambangan bersama-sama dalam kelompok untuk mengelola satu atau lebih tambang timah.

Pemimpin kelompok itu diberi nama Kepala Parit atau Palettheuw. (Rika Theo dan Fennie Lie, 2014,14) Kawasan Kayu besi dan Pangkol yang kaya dengan kandungan timah juga tak lepas dari para pekerja tambang.

Seperti yang disampaikan oleh Ibrahim dan kawan-kawan dalam Bangka Tengah dalam Harmoni Kata (Sejarah, Trademark, dan Slogan Desa/kelurahan/Kecamatan) bahwa penduduk Kayu Besi dan Pangkol merupakan pendatang dari Sungailiat dan Merawang karena kedua daerah ini juga termasuk daerah tambang timah.

Menelisik peta tahun 1946 diatas, terdapat beberapa tambang timah dan bekas tambang timah (disused tin mine).

Salah satu kolong yang masih bisa dijumpai adalah kolong di depan SD Negeri 6 Namang.

Dalam peta tahun 1946 terlihat jelas bahwa kolong tersebut merupakan bekas tambang timah (disused tin mine).

Kondisi kolong tersebut sekarang sangat memprihatinkan. Hampir tidak terlihat lagi sebagai kolong.

Hampir seluruh permukaan kolong sudah rata dengan limbah buangan tambang timah yang berada di bagian hulu berrwarna kuning.

Permukaannya hampir rata seperti sebuah lapangan. Saat musim kemarau air kering dan tanah retak-retak.

Kolong tersebut sebenranya sangat potensial sebagai tempat penampungan air mengingat permukaannya yang sangat luas.

Pada tahun 2016 saat musim hujan, debit airpun bertambah, kolong tersebut tidak mampu menampung debit air sehingga membuat dua buah jembatan yang berada dihilirnya jebol.

Ciri khas perkampungan Cina dengan rumah penduduk yang berjauhan satu sama lain, halaman luas dan terdapat kandang babi di belakang rumah.

Kondisi tersebut masih bisa dijumpai di Kayu Besi. Beberapa rumah tua berusia ratusan tahun dengan bentuk dinding papan tersusun secara vertikal masih dipertahankan.

Di halaman atau dalam rumah terdapat tepekong atau altar untuk sembahyang dan pemujaan terhadap para dewa.

Desa Kayu Besi sangat potensial bila dikembangkan sebagai desa wisata religi Tionghoa.

Sebagai daerah pesisir timur pulau Bangka, desa Kayu Besi juga memiliki garis pantai yang panjang.

Pantai Batu Tabar dan pantai Pangkol telah dikelola dengan baik oleh pemerintah desa.

Tidak jarang saat liburan atau perayaan Ceng Beng atau hari-hari besar tertentu, pantai-pantai tersebut sangat ramai dikunjungi warga.

Berdasarkan Kaart van het Eiland Banka zamengesteld in 1845 en 1846 door H.M. Lange, Pangkol sudah terbentuk sebagai sebuah pemukiman penduduk yang termasuk ke dalam distrik Pangkal Pinang.

Artinya pemukiman di Pangkol sudah ada sebelum tahun 1845.

Dari sudut pandang administrasi, Pangkol dan Kayu Besi pernah tergabung dalam wilayah Desa Cambai Jelutung.

Selanjutnya Cambai Jelutung masing-masing menjadi desa dan Pangkol serta Kayu Besi termasuk ke dalam wilayah desa Cambai.

Kemudian Pangkol dan Kayu Besi menajdi dusun dan tergabung menjadi desa Kayu Besi.

Saat ini Pangkol merupakan salah satu dusun yang berada dalam wilayah administrasi desa Kayu Besi. (tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *