Pemkab Bangka Barat Dorong Wajib Belajar Prasekolah Bentuk Fondasi Anak Generasi Emas

Laporan : Belva Al Akhab

MENTOK, TRASBERITA.COM –  Jam dinding di ruang rapat OR 1 Setda Bangka Barat baru saja menunjukkan pukul 09.00 WIB ketika para peserta mulai memenuhi kursi. Udara sejuk dari pendingin ruangan bercampur dengan riuh suara salam dan sapaan antar pejabat, guru, hingga perwakilan organisasi. Di atas meja panjang, berjejer map rapat, botol air mineral, serta beberapa lembar catatan yang tampak sudah dipenuhi coretan.

Bacaan Lainnya

Di barisan depan, duduk Wakil Bupati Bangka Barat, H. Yus Derahman, mengenakan batik bernuansa cokelat. Ia tampak tenang, sesekali berbincang kecil dengan ajudan di sebelahnya. Tak jauh darinya, Bunda PAUD Bangka Barat, Evi Astura, hadir dengan balutan kebaya modern berwarna lembut. Wajahnya serius, namun tatapan matanya sesekali menyapu ruangan, seakan memastikan setiap peserta siap mendengar gagasan besar yang akan ia sampaikan.

Ketika rapat dimulai, semua mata tertuju pada podium. Wakil Bupati Yus Derahman berdiri dengan tegap. Tangannya sesekali mengepal kecil di atas meja saat menekankan kalimat penting.

“Rajin belajar sejak usia dini akan mencetak anak-anak kita menjadi cerdas di masa depan. Pendidikan adalah pintu awal menuju keberhasilan bangsa,” ucapnya.

Beberapa kepala di barisan belakang tampak mengangguk, bahkan seorang guru PAUD terlihat buru-buru mencatat kata-kata itu di bukunya.

Wabup kemudian memberikan perumpamaan yang mengundang senyum hadirin:

“Tanam padi biar berisi, sudah berisi jadilah beras. Demikian pula anak-anak kita, bila diasuh dengan pendidikan yang benar sejak dini, kelak mereka akan tumbuh menjadi generasi emas Bangka Barat.”

Sejenak ruangan bergemuruh oleh tepuk tangan.

Setelah Wabup, giliran Evi Astura yang maju. Ia berdiri tegap, kedua tangannya menumpu di atas podium. Suaranya terdengar jernih dan penuh keyakinan.
“Masih ada orang tua yang menunda menyekolahkan anak. Alasannya anak dianggap terlalu kecil, atau orang tua sibuk bekerja. Padahal, usia dini adalah golden age anak,” ujarnya.

Di sudut ruangan, seorang ibu guru menghela napas pelan, seakan mengingat murid-murid kecilnya yang masih tertinggal kemampuan baca.

Evi melanjutkan dengan nada lebih serius:

“Kita sering temui anak kelas 4 SD masih kesulitan membaca dan menulis. Ini bukan salah mereka, tapi karena mereka tidak melalui pendidikan prasekolah. Dengan adanya wajib belajar prasekolah, anak-anak sudah siap masuk ke SD.”

Beberapa peserta saling pandang, lalu mengangguk seakan menyadari betapa mendesaknya program ini dijalankan.

Sambil mengangkat tangannya sejenak, Evi menyoroti masalah administratif yang sering disepelekan.

“Kadang ada kasus nama anak di ijazah berbeda dengan akta kelahiran. Atau KK belum diperbarui, padahal anak sudah lulus sekolah. Hal-hal ini sepele, tapi berpengaruh besar,” katanya.

Seorang staf Dinas Dukcapil yang duduk di barisan kiri langsung menunduk, membuka ponsel dan tampak mencatat poin penting itu. Evi menambahkan,

“Dukcapil sebaiknya turun langsung ke masyarakat untuk memberikan sosialisasi tentang pentingnya dokumen kependudukan yang rapi dan sinkron.”

Ketika berbicara soal kolaborasi, suara Evi terdengar lebih hangat.

“BAZNAS bisa bantu anak-anak kurang mampu, bank bisa terlibat dalam literasi keuangan sederhana di sekolah. Dunia usaha juga bisa memberi dukungan CSR. Semua bisa kita sinergikan untuk masa depan anak-anak Bangka Barat.”

Ucapan itu disambut anggukan pejabat BAZNAS yang duduk di samping kanan ruangan. Seorang perwakilan bank bahkan tampak mencatat serius, menandai bagian yang mungkin bisa dijadikan program CSR mendatang.

Menjelang akhir rapat, Wakil Bupati kembali menegaskan dengan nada penuh motivasi:

“Ayo semangat beraktivitas, demi anak-anak Bangka Barat yang lebih baik. Jangan pernah lelah membangun masa depan mereka. Dari sinilah lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat dan berkarakter.”

Ruangan kembali dipenuhi tepuk tangan. Beberapa peserta berdiri sejenak, memberi hormat pada komitmen bersama ini.

Di luar, sinar matahari Mentok yang mulai terik menembus kaca jendela, menyinari wajah-wajah optimis para peserta rapat. Dari ruang rapat sederhana itu, sebuah janji lahir untuk memastikan setiap anak Bangka Barat mendapat hak pendidikan terbaik, dimulai dari wajib belajar 1 tahun prasekolah. (*/Tras)

Pos terkait