Penelusuran Kubur Abok Pate, Penyebar Agama Islam di Namang,

Kuburan Abok Pate. (meilanto/trasberita.com)

Oleh : Meilanto
Pegiat Sejarah dan Budaya Bangka Tengah

BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Rasa penasaran tentang kisah Abok Pate begitu mendalam.

Bacaan Lainnya

Kisahnya sangat dikenal di Desa Namang terutama kalangan tua. Ya yang berusia 40 tahun ke atas.

Jika disebut nama Abok Pate, mereka akan tahu minimal mereka akan menyebut sebagai penyebar agama Islam awal di Namang yang saat itu belum menjadi Namang seperti saat ini.

Saat itu kampung Namang masih belum menjadi kampung seperti saat ini.

Penduduk masih tersebar di Mengkanau, Kalong, Senting, Batu Sabar, Belalang, Saranglang, Pelembe, Tamben, Gerunggang, Aikdurin, Bukit Tamiang dan lain sebagainya.

Umumnya penduduk bercocok tanam padi ume darat.

Selain itu juga mencari hasil hutan dan ikan air tawar di kawasan tersebut.

Saat itu Bangka dikuasai oleh Kesultanan Banten pada abad ke-17 Masehi yang berpusat di Bangka Kota.

Lantas, siapa Abok Pate?

Menurut cerita para tetua di Namang, Abok Pate adalah penyebar agama Islam yang berasal dari Bangka Kota.

Selain menyebarkan agama, ia juga sebagai seorang pemimpin (seperti Bupati).

Ia mendatangi warga untuk mengajarkan agama Islam.

Abok Pate meninggal dunia dan dimakamkan di kawasan yang saat ini masuk wilayah Desa Kerakas.

Sepeninggalan Abok Pate, penyebaran agama Islam dilakukan oleh muridnya yaitu Abok pengurus yang kuburannya berada di kaki Nukit Kudung dekat Gurun Pelawan Namang.

Mengutip dari Buku Memarung, Panggung, Bubung, Kampung dan Nganggung yang ditulis oleh Bapak Drs Akhmad Elvian pada halaman 2-3 ditulis:

Pembinaan dan Pengaturan terhadap masyarakat di pulau Bangka termasuk pengaturan tentang hutan dan tanah telah dilaksanakan dengan baik sejak masyarakat Bangka berada dibawah kekuasaan Keprabuan Majapahit.

Temenggung Dinata dari Majapahit bersama beberapa Patih yang diangkat dari pribumi Bangka mengatur adat istiadat di pulau Bangka dengan tertib.

Pada masa selanjutnya setelah Temenggung Dinata kembali ke pulau Jawa, di pulau Bangka berkembang beberapa daerah yang dipimpin oleh Patih/ pateh.

Sekitar abad XVII Masehi, pulau Bangka berada dibawah pengaruh Kesultanan Banten yang berpusat di Bangka Kota, dengan Bupati Nusantara (juwaraja/ raja muda) dan Panembahan Serpu sebagai penguasa di pulau Bangka.

Setelah sekian lama mencari dengan bertanya dengan orang-orang di Namang, rasa penasaran akan keberadaan kuburan Abok Pate semakin menguat.

Senin (26 Desember2022) saya kembali menelusuri jalan Senting sampai tembus ke Kerakas.

Jalan yang becek dan berlumpur tidak menyurutkan untuk balik kanan.

Walaupun belum menemukan kuburan Abok Pate sebagai target, minimal mendapatkan informasi tentangnya.

Jalan becek dan berlumpur tidak begitu dominan karena jalan sudah tanah puru dan bisa dilalui kendaraan roda empat.

Bermodalkan aplikasi map di android, akhirnya saya bisa keluar jalan raya Kerakas – Kemingking.

Tidak jauh dari aspal, saya menyirami motor yang belepotan lumpur. Lewatlah seorang kakek paruh baya menyapa. “Nak ke mane, Jang?”

Gayung pun bersambut dan “berjodoh” ternyata kubur Abok Pate berada di dekat kebun Abok itu yang ternyata bernama H Hormen, warga Kerakas.

Kamis (29 Desember 2022) saya berangkat lagi ke Kerakas via Senting.

Saya ditemani Guru Huzaifah dan Farhat Setiadi. Kondisi jalan yang becek karena habis hujan membuat kami harus hati-hati.

Motor yang kami kendarai beberapa kali harus dibantu dorong ketika melewati genangan air yang dalam.

Beruntung kami tidak menemukan kendala yang berarti hingga akhirnya kami bisa keluar dari hutan kawasan Kerakas melewati jalan raya Kerakas-Kemingking.

Kami kembali menemui Abok H Hormen dikediamannya di Kerakas karena memang beliau yang mengetahui lokasi kubur yang menjadi tujuan kami.

Perjalanan kembali diteruskan. Menelusuri jalan yang benar-benar ekstrim.

Jalan yang kami lewati tergolong jalan kecil hanya bisa dilewati motor.

Itu pun becek dan sempit. Tidak ada bekas roda motor yang melintasi.

Abok H Hormen di depan sebagai pemandu kami.

Tiba di lokasi, motor diparkir dan kami harus berjalan kaki sekitar 300 lagi.

Lebatnya hutan dan resam petentong harus kami lalui. Hingga akhirnya kubur itu berada di depan kami.

Ya, kubur Abok Pate. Kubur yang selama ini menjadi tanda tanya saya.

Di mana gerangan? Kini kuburannya berada di depan kami.

Saya langsung mengeluarkan skala batang sebagai alat bantu pengukuran dan meteran.

Tak lupa guru Huzaifah membacakan surat-surat Al Qur’an dan berdoa yang ditujukan untuk almarhum yang telah meninggal dunia.

Kuburnya sangat sederhana. Nisan batu biasa tanpa jirat. Di dekatnya berdiri tegak kayu reripit dan Medang sunggau.

Dari cerita-cerita yang saya dapatkan dari tetua di Namang, dulu kuburan itu sempat digali oleh oknum warga dan sering dijadikan tempat untuk hal-hal negatif seperti nomor judi togel.

Ini yang menjadi dugaan rusaknya jirat kubur.

Sebelah timur kubur terdapat tumbak yang menurut Abok H. Hormen adalah tempat perendaman lada pada waktu ia membuka kebun di lokasi itu.

Pola kubur dengan nisan utara-selatan.

Jika memperhatikan lokasi kubur Abok Pate yang relatif dekat dengan Bangka Kota, besar kemungkinan Abok Pate yang dikuburkan di kawasan ini adalah seorang Patih/ Pateh utusan dari Bangka Kota.

Artinya kuburan tersebut sudah sangat tua. Berumur sekitar 4 abad.

Jabatan Pate sama dengan jabatan Depati saat Kesultanan Palembang.

Pukul 11 lewat kami keluar dari hutan itu dan pulang ke Namang melewati Kerakas, Kerantai, Puput, Pinangsebatang, Celuak, Sungkap dan Namang. (tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *