Pengangkuan Mang Win, Santri Ponpes Rintis: Tak Apa Miskin Dunia, Asal Aku Kaya Akhirat

Aswin (48) alias Mang Win adalah santri Ponpes DaarulHijrah Rintis, di Dusun Rintis Desa Simpang Rimba Kecamatan SImpang Rimba, Kabupaten bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (ist)

Penulis: Bangdoi

SIMPANGRIMBA, TRASBERITA.COM — Dari dahulu hingga sekarang, hidupku memang sudah miskin.

Bacaan Lainnya

Bedanya, jika dahulu miskin dunia dan miskin pula akhirat.

Kini alhamdulillah, tak apa miskin dunia, tetapi Insya Allah aku kaya akhirat.

Ucapan ini disampaikan Aswin, usai mengikuti pengajian rutin di Pondok Pesantren Daarul Hijrah Rintis, Dusun Rintis Desa Simpang Rimba, Kecamatan Simpang Rimba Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (28/9/2021) malam.

Singkat tapi menusuk relung hati yang paling dalam, pengakuan Aswin ini telah menggetarkan siapapun yang mendengarnya.

Cukup beralasan bagi Aswin untuk mengatakan ini, pasalnya hampir 45 tahun usianya jauh dari ajaran Islam.

Selama itu pula, Mang Win begitu Ia akrab disapa, tidak memperdulikan ajaran Islam.

Padahal dirinya terlahir sebagai umat Islam.

Setelah tiga tahun belajar bersama Ustadz Fakhrun mengikuti pengajian rutin di Ponpes Daarul Hijrah Rintis, lambat namun pasti, Mang Win berubah.

Dari seorang yang kurang perduli dengan ajaran Islam, kini Mang Win selalu menerapkan ajaran Islam dalam aktivitas hidup sehari-hari keluarganya.

“Alhamdulillah sekarang hidupku baru terasa hidup. Dahulu, kalau pulang kerja langsung mencari cacing untuk pergi mancing hingga larut malam. Bahkan tak jarang hingga terbit fajar,” ujar Mang Win.

Kini bagi pria berusia 48 tahun tersebut, tiada hari tanpa belajar agama Islam.

Setelah selesai mengaji ba’da Maghrib, lalu dilanjutkan ba’da Isya, Mang Win bersama beberapa santri dewasa (baca: tua) lainnya ikut belajar fiqih Islam dengan Ustadz Fakhrun.

Setidaknya sudah tiga tahun ini Mang Win mengerjakan rutinitas tersebut. Tak ada rasa berat apalagi malas.

Setiap Selasa malam dan malam-malam lainnya, Mang Win bersama santri dewasa lainnya belajar dengan Ustadz Fahrun.

Sejak awal Ustadz Fakhrun memulai dakwah di Kampung Rintis, yang didahului dengan merehab Mushala yang tiada penghuninya, Mang Win adalah orang yang pertama mengikuti jalan dakwah Ust Fakhrun.

“Terimakasih saya ucapakan kepada Mang Win. Sejak saya kenal Beliau ini, tiada malam tanpa belajar. Awalnya Beliau ini buta huruf latin dan huruf Arab. Tetapi kini, Alhamdulillah Mang Win sudah pandai mengaji,” ucap Ustadz Fakhrun.

Setelah menimba ilmu tiga tahun ini, kata Ustadz Fakhrun, Ia melihat aktivitas keharian Mang Win terus berubah menjadi lebih baik.

Bahkan Mang Win pernah menyampaikan kepada Ustadz Fakhrun, bahwa Ia sudah mewakafkan dirinya untuk agama Allah, dengan cara terus berjuang menegakkan Pesantren Daarul Hijrah Rintis.

“Kami sangat berharap pembangunan Pesantren Rintis ini segera selesai. Sehingga, kami dan anak-anak di Kampung Rintis ini bisa menimba ilmu agama Islam. Kami ingin belajar di Pesantren Rintis ini hingga akhir hayat,” ujar Mang Win.

Sekarang ini Pondok Pesantren Daarul Hijrah Rintis terus membangun sarana dan prasarana untuk para santri dan para guru. (TRAS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *