Penulis: Lia
PANGKALPINANG, TRASBERITA.COM – Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi Bangka Belitung, Budi Utama, mengaku bahwa pihaknya secara rutin melakukan berbagai upaya dalam menangani berbagai persoalan yang menyangkut Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), seperti gelandangan, pengemis, manusia badut (manusia silver), anak punk dan lainnya.
Hal ini dilakukan dengan berkoordinasi bersama lintas OPD terkait lainnya termasuk polisi dan TNI baik di Kota Pangkalpinang sebagai ibukota provinsi maupun kabupaten/kota.
Selama bulan suci Ramadan 1444H menuju lebaran Idul Fitri 1444H, Dinsos PMD Babel bersama tim lainnya juga tetap melaksanakan patroli hingga penertiban, khususnya keberadaan para tunawisma (gelandangan) yang berpotensi meresahkan masyarakat.
Karena para oknum ini, disinyalir sering beroperasi tidak hanya di sejumlah titik keramaian seperti lampu merah (traffic light) dan pasar, tetapi juga ada yang melakukan secara door to door maupun di sekitar lingkungan rumah ibadah, khususnya juga masjid.
Budi mengaku, H-3 sebelum Ramadan 1444 H, Dinsos PMD Babel bersama tim gabungan juga sudah bergerak melakukan patrol dan penertiban di sejumlah titik di Kota Pangkalpinang.
Sehingga dari operasi yang dilakukan, berhasil menjaring sejumlah PMKS khususnya gelandangan atau tunawisma dan manusia badut.
“Setelah diamankan, kita minta mereka tidak kembali melakukan hal yang sama dan dibuktikan dengan membuat surat perjanjian. Berlaku juga bagi mereka yang berasal dari luar Babel akan kita pulangkan ke daerah asalnya, agar tidak lagi ngabisi beras,” sindir Budi.
Menurut Budi, ada beberapa motif operandi yang kerap dilakukan oleh para oknum PMKS tersebut bebas berkeliaran dan tak jarang juga main kucing-kucingan dengan aparat.
”Jadi kadang kalau sudah terjaring petugas, terus kita tanya, kenapa mengemis, maka alasannya adalah karena kebutuhan dan sulit mencari pekerjaan di Bangka, mengingat kebanyakan mereka berasal dari luar daerah Babel,” kata Budi.
Budi mengaku, dari sejumlah penertiban yang dilakukan, pihaknya juga mendapatkan ada juga PMKS yang bergerak langsung ke rumah-rumah masyarakat, seperti yang ditemukan di Lontong Pancur Pangkalpinang dan sekitarnya.
Para tunawisma ini beroperasi di titik keramaian publik, mereka juga datang ke rumah masyarakat atau tempat ibadah.
“Nah inilah yang juga kita himbau kepada masyarakat untuk tetap waspada, dikhawatirkan juga dikoordinir oleh sindikat-sindikat tertentu. Sehingga motif oknum ini, tidak hanya mengemis tapi melakukan pencurian, curanmor, curat dan sebagainya. Oleh karenanya himbauan ini akan kami tindaklanjuti dalam bentuk surat edaran termasuk tetap melakukan operasi gabungan,” sebut Budi.
Budi juga menghimbau, kepada seluruh masyarakat untuk bersinergi bersama pemerintah dalam menangani para PMKS yang meresahkan.
Salah satu upayanya adalah dengan tidak mudah kasian atau tertipu dengan penampilan lusuh para oknum PMKS tersebut.
”Banyak mereka yang mengaku betah mengemis di Bangka, karena aman dan orang Bangka juga tidak pelit bersedekah, sehingga lambat laun kebiasaan buruk ini justeru dijadikan hobi dan kebaikan masyarakat ini yang inilah yang membuat keberadaan mereka terus ada.
Menurut Budi, bersedekah kepada sesama yang membutuhkan, adalah hal yang baik dan sangat dianjurkan dalam agama terlebih di bulan suci Ramadan.
Namun demikian, akan lebih tepat sasaran dan bijak, jika disedahkan di tempat-tempat atau lembaga resmi seperti masjid, badan lazis, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan sebagainya.
Orang nomor satu di Dinsos Babel PMD Babel ini, juga menyampaikan, bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi untuk melakukan pendataan terhadap PMKS khususnya bagi mereka yang masih kategori anak-anak atau usia sekolah.
“Insha Allah di 2024, para gelandangan dengan kategori usia yang sudah kita tentukan ini, maka akan kita bina dan fasilitasi dengan program sekolah paket, dengan harapan kebiasaan buruk seperti suka meminta-meminta belas kasihan orang ini tidak terus tumbuh, bahkan mereka bisa punya bekal ilmu yang lebih mumpuni agar dapat menjalani kehidupan normal yang lebih mandiri,” tandas Budi. (tras)













