Perempuan Menjadi Kunci Tonggak Peradaban

Okta Widyanti, Ketua KOHATI Babel Raya. (ist)

Oleh: Okta Widyanti
Ketua KOHATI Babel Raya

OPINI, TRASBERITA.COM — Perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat dimuliakan dan merupakan manifestasi Tuhan yang paling indah, karena pada dirinya terdapat sifat pengasih dan penyayang sesuai fitrah nya.

Bacaan Lainnya

Perempuan mempunyai ketertarikkan sendiri, dan dari berbagai sisi memiliki nilai keistimewaan, sehingga harus dijaga dengan sebaik mungkin.

Perempuan yang diidentik dengan kecantikan atau keindahan, sifat lembut, dan keanggunan memberikan energi positif, sehingga dalam ranah sufistik, perempuan digunakan sebagai penggambaran kesempurnaan dan sifat-sifat Ilahi.

Sosok perempuan dengan sisi kemuliaan dan kodratnya dianggap sebagai bentuk manifestasi Tuhan.

Bersyukurlah kita yang hidup dimasa sekarang yang memuliakan seorang perempuan.

Kedudukan perempuan sangat jauh berbeda dengan perempuan pada masa jahiliyah yang selalu ditindas dan tidak diberlakukan dengan baik, diposisikan sebagai manusia paling hina, objek pemuas nafsu laki-laki, tidak berhak untuk mendapatkan pendidikan bahkan dianggap sebagai aib, tetapi berbeda pada zaman sekarang jika kita merefleksikannya pada masa lalu.

Ruang perempuan yang telah tersedia dan bagaimana perempuan bisa memanfaatkan ruang tersebut dengan baik.

Dengan berbagai perjuangan tokoh-tokoh terdahulu yang memperjuangkan hak perempuan dan menegakkan tonggak peradaban perempuan.

Pembelahan yang dilakukan berhasil memberikan kebebasan kepada perempuan untuk mengekpresikan aspirasi yang diperjuangkan perempuan dahulu dan sekarang.

Lahirnya toko-tokoh perempuan yang telah menumpahkan tetesan keringatnya untuk menyuarakan aspirasi perempuan menjadikan refresentasi untuk perempuan perempuan diluar sana ikutserta dalam menggengamkan tangannya dan melantangkan suaranya untuk bisa mengangatkan martabat perempuan yang sedang tidak baik-baik saja.

Perempuan memiliki Multiperan dan ia dituntut mampu memainkan peran tersebut dengan sebaik-baiknya, yaitu menjadi seorang istri/ibu yang baik untuk keluarga nya dan mampu berperan aktif diranah publik.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi tertua yang kelahirannya berdekatan dengan kelahiran tanah air Indonesia.

Tetes perjuangan yang dilakukan memberikan catatan sejarah baik anggota HMI sebagai kader dan masyarakat Indonesia.

Kesadaran akan cinta terhadap bangsa dan tanah air sudah ada sejak masa pra-kemerdekaan bangsa.

Semangat golongan muda dahulu dalam merebutkan kemerdekaan di tangan penjajah adalah warisan yang sangat berharga dan patut untuk diteruskan.

HMI juga memberikan ruang kepada perempuan- perempuan dalam ekpresikan dirinya dalam berproses dan menambah intelektual diri, sehingga 17 September 1966 lahir lembaga khusus yaitu Koprs HMI-Wati (KOHATI) yang menaungi perempuan-perempuan di HMI untuk bisa meneggakkan aspirasi perempuan dan menjawab permasalahan terkait dunia perempuan yang saat itu harus diperjuangkan.

Korps HMI-Wati melahirkan sosok perempuan tangguh dan berperan aktif dalam kancah keperempuanan.

Pergolakan dan permasalahan terkini yang menjadi tantangan Koprs HMI-Wati untuk membersamai dan memperjuangkan hal-hal yang menjadi keresahan yang harua segera diselesaikan.

Berbagai permasalahan yang sedang menimpah perempuan yaitu banyak perempuan yang menjadi korban dari kekerasan baik itu fisik dan mentalnya, pergaulan yang diselimutin dengan budaya barat yang membuat kebebasan tak terbatas, sehingga perempuan harus pandai dalam menyikapi permasalahan permasalahan yang ada.

Pada 17 September 2022, menjadi catatan dalam perjalanan KOHATI untuk tetap menjadi panji Islam dalam meneggakkan kebenaran sehingga peran dan gerakan KOHATI saat ini sangat dibutuhkan untuk duduk bersama menyelesaikan problmetika yang ada.

Usia ke-56 yang cukup memberikan bukti bahwa KOHATI adalah lembaga keperempuanan yang selalu menggenggam dalam membela kebenaran dan kaum-kaum yang tertindas

Hidup Perempuan Indonesia

Diharapkan bukan hanya sekedar kata yang tersemat dalam setiap pembelaannya tetapi memberikan arti positif untuk menjadi penegak panji Islam.

HMI-Wati diharapakan sebagai pembina, pendidik generasi bangsa dengan menuntut ilmu dan mengamalkan untuk memaslahatan umat.

Selamat Hari lahir KOHATI, 56 Tahun Bergerak Membangun Negeri. (tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *