TOBOALI, TRASBERITA.COM – Rektor Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel) Ir. Fadillah Sabri, S.T., M.Eng., IPM., selaku Ketua Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (FORDAS Babel) bersama Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Baturusa Cerucuk melakukan audiensi sekaligus rapat koordinasi dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Selatan Hefi Nuranda, S.T., di Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Senin (9/3/2026).
Pertemuan tersebut dilaksanakan di ruang rapat Sekda yang turut dihadiri perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ketua Forum DAS Bangka Selatan, kepala-kepala SKPD terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, serta sejumlah camat dan kepala desa. Audiensi ini membahas hasil kajian FORDAS Babel terkait kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) Nyireh, khususnya Sub DAS Kemis, serta sejumlah rekomendasi strategis untuk pengelolaan dan pemulihan kawasan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Selatan Hefi Nuranda, S.T., M.M., menyampaikan bahwa pemerintah daerah menyambut baik hasil kajian tersebut dan akan menindaklanjuti berbagai rekomendasi yang telah disampaikan.
“Apa yang menjadi rekomendasi akan segera kita tindak lanjuti dan bisa segera kita laksanakan dalam waktu dekat. Ini adalah hal positif yang menjadi dasar bagi kita untuk berembuk atas hasil kajian tersebut sebelum kita teruskan ke pemerintah provinsi. Begitu juga yang berkaitan dengan dukungan anggaran APBD akan kami lanjutkan pembahasannya bersama DPRD,” ujarnya.
Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Baturusa Cerucuk, Eka Widiyastutik, S.Hut., M.Si., menjelaskan bahwa kondisi tutupan hutan di DAS Nyireh saat ini masih jauh dari kondisi ideal sebagaimana amanat dalam Undang-Undang Tata Ruang.
“Tutupan hutan di DAS Nyireh, termasuk Sub DAS Kemis, saat ini kurang dari 10 persen, jauh di bawah ketentuan minimal 30 persen sesuai amanat Undang-Undang Tata Ruang. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya limpasan permukaan yang berpotensi memicu banjir pada musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau. Saat ini Koefisien Aliran Tahunan (KAT) DAS Nyireh telah mencapai 0,45, yang berarti sekitar 45 persen air hujan langsung melimpas di permukaan. Karena itu, pengelolaan dan pemanfaatan lahan di DAS perlu dilakukan secara bijaksana untuk menjaga keseimbangan air sepanjang tahun,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Unmuh Babel Ir. Fadillah Sabri, S.T., M.Eng., IPM., selaku Ketua FORDAS Babel, menegaskan bahwa kawasan rawa di hulu Sub DAS Kemis memiliki peran strategis dalam menjaga sistem hidrologi serta menopang keberlanjutan pertanian di Kabupaten Bangka Selatan.
“Kawasan rawa di hulu Sub DAS Kemis yang merupakan bagian dari DAS Nyireh memiliki fungsi penting sebagai daerah resapan air sekaligus penopang irigasi ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Bangka Selatan. Namun, aktivitas pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di kawasan tersebut telah menimbulkan berbagai dampak, mulai dari terganggunya aliran irigasi akibat sedimentasi, penurunan debit air, hingga potensi penurunan produktivitas sawah. Selain itu, muncul pula persoalan sosial-agraria berupa klaim kepemilikan lahan dan lemahnya penegakan aturan tata ruang. Karena itu, diperlukan langkah strategis dan rekomendasi kebijakan yang komprehensif untuk menghentikan perambahan, memulihkan fungsi ekologis kawasan rawa, serta memastikan keberlanjutan sistem hidrologi di Sub DAS Kemis,” pungkasnya.
Audiensi ini diharapkan memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan. Rektor Unmuh Babel Ir. Fadillah Sabri, S.T., M.Eng., IPM., selaku Ketua FORDAS Babel, juga menyerahkan dokumen rekomendasi hasil kajian FORDAS Babel kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Selatan. (Tras).













