Pilkada Bukan Sekedar Baliho: Siapa Penentu Kemenangan Sebenarnya?

PANGKALPINANG, TRASBERITA.COM – Menjelang Pilkada Ulang 2025, suhu politik di Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang mulai meningkat.

Baliho kandidat terpasang di sudut-sudut kota, rapat konsolidasi partai digelar nyaris tiap pekan, dan berbagai kelompok relawan mulai aktif berkegiatan.

Bacaan Lainnya

Namun di balik hiruk-pikuk itu, muncul satu pertanyaan penting: siapa sebenarnya yang paling menentukan kemenangan seorang calon kepala daerah?

Pertanyaan ini menjadi perenungan serius bagi Aboul A’la Almaududi, SH, seorang aktivis, penulis, dan pengamat sosial yang aktif mengikuti dinamika demokrasi lokal di Bangka Belitung.

Menurutnya, kemenangan dalam Pilkada bukan semata ditentukan oleh partai atau logistik kampanye, tapi lebih dari itu—oleh rakyat itu sendiri.

“Rakyat bukan sekadar objek janji, mereka adalah subjek utama yang menentukan arah kepemimpinan. Suara mereka lebih kuat dari mesin politik mana pun,” ungkap Aboul saat ditemui di Pangkalpinang, Sabtu lalu.

Ia menjelaskan bahwa seluruh aktor politik memang memainkan peran penting. Partai politik memberi kendaraan legal dan struktur.

Tim sukses bertugas mengatur medan kampanye dan logistik. Konsultan politik menyusun arah pesan dan strategi. Relawan membentuk jejaring emosional yang bergerak di bawah radar.

“Tapi rakyat adalah hakim terakhir. Mereka yang mencoblos. Mereka yang menilai kejujuran, rekam jejak, dan sikap para calon. Maka yang harus direbut bukan hanya panggung, tapi hati rakyat,” ujar Aboul.

Ia menilai bahwa relawan menjadi salah satu simpul penting dalam membentuk opini publik. Mereka bekerja dengan kesadaran, bukan kontrak.

Mereka menyampaikan pesan dengan keikhlasan, bukan naskah.

Namun, kata Aboul, semua peran itu akan lemah jika berjalan sendiri-sendiri.

“Kemenangan itu harus hasil orkestrasi. Partai, tim sukses, konsultan, dan relawan harus padu. Kalau satu saja bermain ego, yang kalah adalah kepercayaan publik,” katanya.

Aboul juga menyoroti fenomena politik uang dan kampanye bermodal besar yang mulai jenuh di mata publik.

Ia menyebut masyarakat kini lebih peka, lebih kritis, dan tidak lagi mudah percaya pada janji tanpa bukti.

“Kita tidak butuh kepala daerah yang hanya menang karena uang, tapi kalah dalam kepercayaan. Politik itu bukan sekedar menang, tapi juga soal membangun harapan,” tegas Aboul.

Ia mengajak seluruh elemen demokrasi di daerah untuk menjaga Pilkada agar tetap sehat, adil, dan mendidik.

Menurutnya, hanya melalui kesadaran kolektif, demokrasi lokal bisa melahirkan pemimpin yang benar-benar bekerja untuk rakyat.

“Menangkan hati rakyat, bukan dompet mereka,” tutup Aboul. (tras)

 

Pos terkait