Dari Warisan Kolonial Menuju Rumah Rakyat
Editor: Bangdoi Ahada
PANGKALPINANG, TRASBERITA.COM — Di bawah sinar lampu Sabtu (1/11/2025) malam itu, suasana di Rumah Dinas Walikota Pangkalpinang, terdengar canda dan tawa.
Di ruang tengah rumah yang bergaya kolonial yang berdiri gagah sejak 1913 itu, Walikota Pangkalpinang Prof Saparudin, yang akrab disapa Prof Udin, berbincang santai dengan sejumlah wartawan.
Di tengah obrolan ringan itu, terselip gagasan besar: menjadikan rumah dinasnya sebagai “Bina Graha”-nya Kota Pangkalpinang.
“Saya ingin rumah dinas ini jadi rumahnya rakyat Pangkalpinang secara khusus, dan rumahnya rakyat Bangka Belitung secara luas,” ujar Prof Udin dengan senyum hangat, seolah tengah membayangkan rumah kolonial itu hidup kembali dengan denyut publik.
Seperti diketahui masyarakat Kota Pangkalpinang, Rumah Dinas Walikota Pangkalpinang bukanlah bangunan biasa.
Ia adalah saksi bisu sejarah panjang kekuasaan dan pemerintahan di Pulau Bangka.
Dibangun pada tahun 1913 saat Pangkalpinang menjadi ibu kota keresidenan Belanda, rumah ini dulu dihuni oleh Residen pertama, AJN Engelenberg, sebagai simbol kekuasaan kolonial di tanah Melayu.
Pasca kemerdekaan, bangunan ini tetap berdiri kokoh, menjadi tempat tinggal para pemimpin kota dari masa ke masa.
Hingga kini, statusnya telah diakui sebagai cagar budaya nasional, dengan ciri khas arsitektur Eropa: pintu dan jendela tinggi, atap limasan bergenteng tanah, dan dua meriam kuno di halaman depan yang masih menatap ke arah masa lalu.
Namun di tangan Prof Udin, rumah bersejarah itu akan diberi napas baru — bukan lagi sekadar tempat tinggal Walikota, tapi pusat aktivitas publik, edukasi, dan sejarah.
Inspirasi dari Bina Graha Jakarta
Layaknya Gedung Bina Graha di Jakarta yang kini menjadi kantor Staf Presiden (KSP) dan Situation Room Presiden, Rumah Dinas Walikota Pangkalpinang akan disulap menjadi pusat koordinasi kebijakan sekaligus ruang publik.
“Berbagai rapat dengan kepala dinas, acara resmi Pemkot, sampai kegiatan seremonial, nanti bisa digelar di sini,” jelas Prof Udin.
Ia ingin menjadikan rumah dinas bukan hanya simbol kekuasaan, tapi pusat transparansi pemerintahan dan ruang interaksi antara pemimpin dan rakyatnya.
Konsep ini, menurutnya, bukan hanya tentang fungsi administratif, tapi juga simbol keterbukaan: rumah pemerintahan yang tidak berjarak dengan warganya.
Menjadi Teras Pariwisata Sejarah
Langkah Prof Udin juga tak lepas dari pandangan visioner terhadap potensi wisata sejarah Pangkalpinang.
Rumah dinas Walikota berada di kawasan yang sarat nilai historis: di sekitarnya berdiri Taman Sari, Gedung Panti Wangka, Gereja tua, serta SMKN 1 Pangkalpinang yang dahulu merupakan sekolah Belanda.
“Kawasan ini adalah jejak kota tua Pangkalpinang. Nanti akan kita tata, beri ornamen sejarah, supaya bisa menarik wisatawan luar negeri untuk belajar sejarah kemerdekaan dan pemerintahan kolonial,” tutur Prof Udin.
Rencananya, rumah dinas itu akan difungsikan sebagai ikon pariwisata edukatif, lengkap dengan galeri foto sejarah, arsip pemerintahan kolonial dan kemerdekaan, serta spot wisata budaya yang menghidupkan kembali aura masa lalu.
Rumah Dinas, Cermin Kepemimpinan Baru
Secara simbolik, gagasan “Bina Graha Mini” ini mencerminkan gaya kepemimpinan Prof Udin yang ingin membuka sekat antara birokrasi dan masyarakat.
Dengan menjadikan rumah dinas sebagai ruang terbuka, ia berharap masyarakat bisa merasakan langsung dinamika pemerintahan dan perkembangan kota mereka.
“Pemerintahan bukan hanya soal kantor dan kebijakan, tapi juga soal rasa memiliki. Rumah ini nanti harus membuat warga merasa bahwa Pangkalpinang benar-benar milik mereka,” tegasnya.
Langkah ini sekaligus menjadi bentuk pelestarian sejarah yang bertransformasi, bukan sekadar konservasi.
Rumah Dinas Walikota Pangkalpinang yang dulunya lambang kekuasaan kolonial kini akan disulap menjadi pusat rakyat dan simbol kemajuan beridentitas lokal.
Di bawah tangan Prof Udin, bangunan tua di jantung kota itu akan punya cerita baru — bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tapi rumah masa depan bagi rakyat Pangkalpinang. (tras)








