PT ThorCon Power Rogoh Kocek Senilai 17 T Demi Proyek Pembangkit Nuklir Pertama RI di Lembah Purba Pulau Gelasa Bangka Tengah

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir | Mr Duncan Associated Press dan Dokumentasi Trasmedia

Laporan: AKA | Editor: A Karim A

BABEL, Trasberita.com – Pulau Gelasa yang berada di lembah purba di Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, bakal dijadikan lokasi pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Pulau Gelasa yang memisahkan Pulau Bangka dan Pulau Belitung ini memiliki perairan laut yang mana merupakan laut adat suku Melayu yang menetap di Koba, Lubuk Besar, Tanjung Berikat, Batu Beriga yang termasuk teritori Kabupaten Bangka Tengah, hingga menjalar ke Pulau Kelapan, Kabupaten Bangka Selatan.

Selama ratusan tahun perairannya dijaga secara adat oleh suku Melayu. Bahkan menariknya, ada sejumlah pantang larang bagi masyarakat yang hidup di sekitar Perairan Gelasa.

Misalnya dilarang menangkap dan membunuh penyu hijau, penyu belimbing, penyu sisik, lumba-lumba hidung botol, dugong, hiu paus, serta merusak terumbu karang sebagai rumah ikan.

Namun, kabar panasnya adalah PT ThorCon Power Indonesia (TPI) berencana menjadikan pulau Gelasa tersebut untuk dijadikan lokasi proyek pembangunan PLTN pertama Indonesia. Adapun pembangkit nuklir itu rencananya berkapasitas 500 megawatt (TMRS500).

Melansir dari CNN Indonesia, Direktur Operasi PT ThorCon Power Indonesia Bob S Effendi mengungkapkan, perusahaan menyiapkan investasi sekitar Rp17 triliun untuk membangun pembangkit nuklir dengan reaktor thorium.

Reaktor nuklir itu rencananya dibuat di atas galangan kapal di Korea Selatan. Setelah jadi, kapal reaktor itu akan berlabuh di pelabuhan yang akan dibangun di Pulau Gelasa, Kepulauan Bangka-Belitung.

“Memang investasi Rp 17 triliun. Kita tidak membangun planting di Indonesia, kita membangunnya itu di Korea, di atas kapal, tapi yang dibangun di sini (Indonesia) lebih kepada Pulau Gelasanya, pelabuhannya dan juga fasilitas uji nonvisi,” ujar Bob dalam konferensi pers di kantor Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), Jakarta Pusat, dikutip dari Detik, Selasa (28/3).

Setelah beroperasi, Bob tidak menutup kemungkinan akan membangun pabrik reaktor nuklir di Indonesia. Kemungkinan pabrik akan dibangun di Bangka Belitung atau lebih tepatnya di Pulau Gelasa selepas 2030.

“Ke depannya, PLTN ini yang nanti awalnya dibangun di Korea akan dibuka pabrik di Indonesia, itu komitmen kami,” terangnya.

Perusahaan saat ini masih melanjutkan studi teknis dan ekonomi. Pada 2019 lalu, BUMN di galangan perkapalan, PT Pal Indonesia juga sudah menandatangani perjanjian dengan Thorcon Internasional Pte Ltd untuk melakukan studi pengembangan dan pembangunan pembangkit listrik nuklir itu.

Di samping itu, Nuclear Safety Senior Manager PT TPI Tagor Malem Sembiring menandatangani Perencanaan Konsultasi 3S dengan Direktur Pengaturan Pengawasan Instalasi dan Bahan Nuklir Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Haendra Subekti.

Selain itu, perusahaan juga menyampaikan dokumen High Level Safety Assessment (HLSA) yang disusun bersama konsultan engineering nuklir Spanyol Empresarios Agrupados (EA) dan Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika (DTNTF) UGM.

Berdasarkan hasil kajian dan kerangka regulasi, Bapeten menilai TMSR500 (desain konseptual) dirancang untuk dapat memitigasi kecelakaan Fukushima dan bahaya eksternal lainnya, serta bahaya eksternal tipikal Indonesia.

“Kami melakukan penandatanganan dokumen serah terima dari PT ThorCon kepada BAPETEN. Dokumen ini berisi tentang rencana pembangunan PLTN dan segala dokumen-dokumen persyaratan yang diperlukan,” ujar Plt Kepala BAPETEN Sugeng Sumbarjo.

Apabila proyek selesai, nantinya diadakan konsultasi Safety atau Keselamatan, Security atau Keamanan, dan Safeguards atau Garda Aman (3S) terkait desain PLTN itu.

“Dalam penyerahan ini penting adanya roadmap atau agenda yang mulai hari ini hingga 2029 di mana Thorcon akan menyampaikan secara bertahap dokumen-dokumen yang diperlukan kemudian BAPETEN juga akan melakukan konsultasi, sebelum masuk perizinan,” terangnya. (Tras – Sosial)

Pos terkait