Puluhan PIP Tanpa Izin Kembali Mengganas di Batu Hitam Belinyu, Tak Jauh Beda dengan PIP di Laut Sukadamai

Aktivitas PIP di kawasan Batu Hitam Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitungg, Rabu (13/3/2024). (tim jobber)

Penulis: Jobber
BANGKA, TRASBERITA.COM — Asap hitam dari mesin-mesin di ponton isap produksi (PIP) terlihat menghitami udara kawasan Perairan Batu Hitam dan Sungai Rumpak, Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sudah seringkali perairan ini ditertibkan, namun seringkali juga puluhan PIP ini kembali menggasak kawasan Batu Hitam dan Sungai Rumpak.

Bacaan Lainnya

Ketika perhatian masyarakat tertuju kepada ganasnya PIP merusak perairan Sukadamai Toboali Bangka Selatan, ternyata sepekan belakangan ini puluhan PIP juga menggasak kawasan Batu Hitam dan Sungai Rumpak Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka.

“Yang kami tahu sudah tiga hari ini puluhan, bahkan ratusan PIP kembali beraktivitas di Batu Hitam dan Sungai Rumpak,” ujar Sol, warga setempat kepada Tim Jobber, Rabu (13/3/2024).

Dari video yang dikirimkan ke Tim Jobber, terlihat puluhan ponton beroperasi di pinggir hutan bakau.

Tampak air sekitar PIP menghitam akibat lumpur dari aktivitas tambang puluhan ponton tersebut.

Sementara agak ke tengah, ternyata PIP yang beroperasi lebih banyak lagi.

Puluhan ponton ini bekerja berdekatan, seakan berlomba mengeruk butiran hitam dari perut perairan Batu Hitam dan Sungai Rumpak.

“Belum ada Bang penertiban lagi. Tetapi percuma lah Bang penertiban, macam main sinetron bailah. Aparat hanya datang, menghimbau. Biasanya berhenti 1 atau 2 hari, setelah itu jalan lagi. Jadi ya itu, macam orang main sinetron bai. Terkesan serius, tapi ya gitulah,” timpal Min, temannya Sol kepada Tim Jobber.

Aktivitas PIP illegal di Batu Hitam ini bagaikan momok yang tak bisa ditertibkan oleh aparat hukum dan instansi yang berwenang terkait lingkungan hidup, kelautan maupun perikanan.

Sumber daya Bangka Belitung, seperti hutan bakau, perikanan dan kelautan hancur tanpa ada yang serius perduli.

Anehnya lagi, seiring dengan perusakan hutan bakau oleh penambang ini, aparat penegak hukum juga gencar menamam bayi bakau, yang hidupnya juga tak meyakinkan.

Sementara induk-induk bakau yang sudah hidup puluhan tahun dirusak, tanpa ada yang mencegahnya.

Pihak satunya menanam, yang pihak satunya merusak.

Begitulah negeri dagelan, tak bisa lagi menentukan mana sinyu mana banditnya.

Semua seakan tenggelam dalam kenikmatan rupiah dari butiran pasir timah.

Hal serupa ini tidak jauh beda dengan kondisi di Laut Sukadamai Toboali Kabupaten Bangka Selatan.

Ratusan PIP tanpa izin, juga beroperasi tampa ada yang melarang.

Sekarang ini masyarakat sudah tidak bisa berharap lagi dengan aparat penegak hukum.

Meski sudah banyak masyarakat terutama nelayan yang teriak, dan kerap kali juga diberitakan, namun tidak ada tindakan yang konsisten untuk mengamankan sumber daya alam Bangka Belitung ini.

“Setahu kami, yang bekerja di Batu Hitam dan Sungai Rumpak tersebut, orang-orang itulah Bang. Coba kalo aparat serius, misalnya mereka ini ditangkap lalu dijebloskan ke penjara, mungkin adalah jeranya,” tukas Sol, sembarai tertawa. (jb/tras)

Pos terkait