“Rasa” Islam dalam Politik

Prof Bustami Rahman, Ketua LAM NSS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (ist)

Penulis: Prof Butami Rahman
Ketua LAM NSS Bangka Belitung

TRASBERITA.COM — Orang Islam itu mayoritas, tetapi mengapa mereka selalu kalah dalam Pemilu? Pertanyaan yang sederhana. Apa jawabnya?

Bacaan Lainnya

Jawaban yang pendek dan juga sederhana: karena mayoritas orang Islam mengabaikan ‘rasa’ Islam dalam berpolitik.

Maaf, uraian yang agak panjangnya seperti ini.

Clifford Geertz antropolog Inggris terkenal itu lama bermukim di pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Geertz menemukan tipologi orang Jawa dalam tiga kategori. Abangan, Santri, dan Priyayi.

Dalam kaitan dengan Islam, kategori Priyayi dalam analisis keagamaannya kemudian diabaikan.

Tinggallah kemudian dua kategori, yakni Abangan dan Santri.

Dua penamaan kategori ini bukanlah ciptaan Geertz.

Konsep Abangan dan Santri adalah temuan fakta di lapangan. Murni di lapangan.

Temuan Geertz itu ditulis di penghujung tahun 50an dan menjadi sangat terkenal di tahun 60an sampai kini, khususnya di kalangan antropolog dan sosiolog.

Geertz menemukan kenyataan bahwa banyak sekali orang Jawa yang mengaku dirinya Islam, tetapi tidak mempraktikkan syariat Islam.

Kelompok yang mayoritas ini tidaklah segan untuk menamakan diri mereka sebagai Abangan.

Di pihak lain, yang jumlahnya tidak sebanyak Abangan, mengaku diri mereka sebagai Santri.

Kelompok ini mengerjakan syariat dengan tertib. Sholat, puasa, dan sebagian yang mampu berhaji adalah sebagian syariat utama yang mereka lakukan.

Di awal tahun 1990an, saya melakukan penelitian di pedalaman Jawa Tengah dan Jawa Timur di bawah bimbingan Prof Umar Kayam, Prof Nasikun, dan Prof Kuntowijoyo dari UGM.

Di samping itu saya memiliki Pembimbing luar Prof Hans Dieter Evers di Universitas Bielefeld Jerman, Prof Frans Husken di Universiteit Amsterdam Belanda.

Terakhir saya memperoleh bimbingan langsung dari Clifford Geertz sendiri.

Hasil penelitian saya itu memperoleh pengakuan Prof Geertz sebagai perolehan data yang lebih rinci.

Mampu mengungkapkan diferensiasi tiap kategori dan mampu menangkap ‘rasa’ kaum Abangan dan kaum Santri.

Saya hanya ingin mengungkapkan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang Abangan terhadap saudara-saudaranya yang Santri itu.

Karena hal ini yang mungkin membuat rasa yang tidak cocok sehingga Islam dan Politik kurang berjodoh.

Orang Jawa sulit untuk berterus terang. Mereka diajari turun temurun untuk tidak mengumbar rasa.

Mereka diajari untuk sabar, eling, dan waspodo. Mereka juga mendalami rasa teposaliro dan andap asor.

Dengan penelitian yang cukup lama di lapangan dan dengan teknik berhati-hati sebagaimana yang diajari oleh guru-guru saya itu, rasa sosial dan budaya dapat sedikit diungkap.

Beberapa yang terkait dengan judul di atas adalah sebagai berikut:

1. Orang Islam Abangan (orang Abangan) merasa risih dengan simbol yang kearab-araban. Termasuk antara lain: pakaian, penggunaan simbol, kata dan istilah dalam bahasa Arab.

2. Orang Jawa (dalam hal ini juga orang Abangan) merasa lebih awal hidup di Pulau Jawa. Dengan itu menurut mereka, budaya Jawa lebih dulu unggul.

3. Orang Abangan merasa agama Islam yang dianggap ke arab-araban itu tadi telah berkembang sedemikian rupa sehingga ada kekhawatiran mengungguli budaya Jawa.

4. Orang Abangan merasa ‘ribet’ dengan syariat Islam. Terasa memberatkan hidup sehari-hari.

5. Orang Abangan merasa bahwa perilaku mereka sehari-hari dan adat leluhur adalah syariat. Sehingga tidak memerlukan tambahan yang lain.

Dengan contoh ‘rasa’ orang Abangan yang notabene orang Islam itu, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Dalam hidup sehari-hari, tidak terjadi distorsi atau ketegangan antara orang Santri dan orang Abangan. Karena orang Jawa terbiasa dan terlatih untuk hidup harmoni.

2. Dalam pilihan politik, distorsi akan terjadi. Karena kekhawatiran orang Abangan itu terakumulasi melalui partai politik.

3. ‘Rasa’ Islam yang berbeda ini terus dimanfaatkan oleh pihak yang phobia terhadap Islam.

4. Terpilahnya ‘rasa’ Islam ini akan terus menerus mengkotakkan orang Santri di dalam Partai minoritas dan mengkotakkan orang Abangan dalam Partai nasionalis yg lebih mayoritas.

5. Itulah sebab mengapa orang Islam yang ‘mayoritas’ (dalam statistik) selama ini tidak pernah diwakili oleh orang santri. Orang Santri selalu berada dalam posisi underdog.

6. Tulisan ini tidak membuat rekomendasi politik. Namun, dapat menjadi isyarat politik dan bacaan politik bagi kalangan Islam nasionalis ke depan. Salam. (*/tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *