Samuel Then Angkat Sejarah Mentok ke Panggung Nasional, Tragedi Perang Dunia II Siap Difilmkan

Penulis: Koko Rudi

Editor: Bangdoi Ahada

Bacaan Lainnya

MENTOK, TRASBERITA.COM — Di sebuah kota kecil yang sarat sejarah bernama Mentok, Bangka Barat, ingatan tentang Perang Dunia II selama ini lebih banyak tersimpan dalam cerita lisan dan arsip sunyi.

Namun Rabu siang itu, 7 Januari 2026, di Gedung Perpustakaan Daerah Kabupaten Bangka Barat, sebuah janji besar diucapkan.

Sejarah kelam Mentok tak lagi hanya tinggal di rak buku—ia akan hidup di layar lebar.

Janji itu datang dari Samuel Then. Sebagai produser, pengusaha, sekaligus tokoh politik lokal, Samuel Then tampil bukan sekadar sebagai pendamping penulis.

Ia hadir sebagai penggerak, penghubung antara sejarah dan generasi masa depan.

Melalui buku “Tragedi Perang Dunia II di Kota Mentok Dalam Kilasan Sejarah” karya Syarifudin Isa, Samuel menegaskan komitmennya.

“Mentok harus diingat, dan sejarahnya harus diceritakan dengan cara yang relevan bagi zaman ini,”ujarnya.

“Mentok ini kota sejarah. Tapi ironisnya, penulis sejarah dari kota ini justru sangat minim,” tambah Samuel Then di hadapan hadirin.

Kalimat itu bukan sekadar kritik, melainkan kegelisahan yang mendorongnya terlibat langsung dalam proyek buku dokumenter tersebut.

Bagi Samuel, buku ini bukan proyek sesaat.

Ia melihatnya sebagai warisan pengetahuan. Cerita tentang jatuhnya Pearl Harbour, masuknya tentara Jepang ke Mentok, tragedi tenggelamnya kapal Vyner Brooke, pembantaian di Radji Beach, hingga kisah tragis Vivian Gordon Bowden dan kesaksian Vivian Bullwinkle, menurutnya, adalah potongan sejarah dunia yang kebetulan terjadi di tanah Mentok—dan itu tidak boleh dilupakan.

Keputusannya menggandeng Syarifudin Isa bukan tanpa alasan.

Samuel menilai Syarifudin sebagai sosok yang memahami denyut sejarah Mentok, terlebih dengan latar keluarga yang dekat dengan dokumentasi visual masa perang.

Orang tua Syarifudin dikenal sebagai fotografer sejarah Kota Mentok, menyimpan banyak potret yang kini menjadi saksi bisu zaman.

“Dengan dibuatkannya buku ini, ke depan akan menjadi pengetahuan bagi anak cucu kita,” kata Samuel.

Namun ia tak berhenti di sana. Dengan nada penuh keyakinan, ia mengumumkan langkah berikutnya, cerita dalam buku ini akan diangkat menjadi film layar lebar.

Rencana itu menegaskan peran Samuel Then bukan hanya sebagai produser buku, tetapi sebagai visioner yang ingin membawa sejarah lokal ke ruang yang lebih luas.

Film, baginya, adalah medium yang mampu menjangkau generasi muda—mereka yang mungkin enggan membuka buku sejarah, tetapi akan tersentuh oleh kisah kemanusiaan di balik perang.

Apresiasi pun datang dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat, Farouk Yohansyah, yang menyebut buku setebal 134 halaman ber-ISBN ini sebagai tambahan penting dalam khazanah koleksi daerah.

Buku terbitan Uwais Inspirasi Indonesia (anggota IKAPI) tersebut bahkan akan ditempatkan dalam koleksi khusus perpustakaan.

Di balik seremoni launching dan penyerahan buku, peran Samuel Then terlihat jelas: ia memilih berdiri di antara masa lalu dan masa depan.

Di satu sisi, ia menghormati sejarah dan para korban perang.

Di sisi lain, ia mendorong agar kisah itu tidak membeku sebagai arsip, melainkan bergerak, bersuara, dan kelak diproyeksikan ke layar bioskop.

Bagi Mentok, langkah Samuel Then bisa menjadi awal kebangkitan narasi sejarah lokal.

Bagi generasi muda, ini adalah undangan untuk mengenal kota mereka bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai saksi peristiwa dunia.

Dan bagi Samuel Then sendiri, janji itu kini tercatat: sejarah Mentok akan hidup kembali—bukan hanya dibaca, tetapi juga ditonton. (Tras)

Pos terkait