Sejarah Jelutung dalam Catatan Peta Kaart Van Het Eiland Banka

Potongan peta Djelpetoeng dengan Mt. Pandjang, Lawangkoeri Hill dan Tangis Hill Sumber : kitlv.nl (seri 33,23)

Oleh: Meilanto
Pegiat Sejarah dan Budaya Bangka Tengah
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Dalam peta Kaart van het Eiland Banka zamengesteld in 1845 en 1846 door H.M. Lange, Lempuyang merupakan salah satu kampung dibawah distrik Pankal-Pinang.

Dalam peta tersebut tertulis Lampoijang. Dari Pankal-Pinang ke arah selatan pesisir timur, sudah terhubung dengan jalan raya.

Bacaan Lainnya

Kampung-kampung yang terhubung dari pusat distrik Pangkal-Pinang ke arah selatan diantaranya, Messoe – Selienta – Pankool – Lampoijang, Koendoer Oeloe – Moenjang.

Di kampung Moenjang (analisa penulis, desa Belilik sekarang) terdapat persimpangan ke kiri yaitu ke Namen – Soenkap – Tjiloeak, Poepot – Kaates.

Selanjutnya terdapat persimpangan di Paret Trantang ke arah kanan ke Soengi Slan dan ke arah kiri ke Seraij sampai ke Pankal-Pinang.

Jalan terus dari Moenjang melewati sungai Koerow dan kampung Koerouw – Penjieak – Gontong – Koba dan seterusnya sampai ke Toboali.

Dari peta ini diketahui ruas jalan nasional sekarang yang menghubungkan Pangkalpinang sampai ke Koba baru terbentuk sampai desa Air Mesu (Messoe) dan belum ada jalan raya yang melintasi desa Cambai dan desa Jelutung karena kedua desa ini dalam peta tersebut belum tertulis.

Dan persimpangan ke arah Sungkap (seperti saat ini terdapat persimpangan Namang) justru terdapat di Moenjang. Saat itu, jalan raya Pangkal-Pinang sampai ke Toboali melewati jalan pesisir timur.

Selanjutnya kondisi Lempoijang dapat dipelajari dari peta Kaart van het Eiland Banka (cartographic material) volgens de topograhische opneming in de jaaren 1852 tot 1855 karya L.Ullman.

Dalam peta yang diterbitkan di Batavia tahun 1856 ini sudah tampak jelas pembagian distrik di pulau Bangka (terbagi menjadi sembilan distrik) dan batas-batas antardistrik yang ditandai dengan garis tebal biru muda.

Dalam peta telah tercatat beberapa nama kampung dalam distrik masing-masing.

Dalam distrik Pankalpinang salah satunya Lempoejang. Secara geografis kampung Lempoejang berbatasan dengan kampung Pankal (Pangkol) disebelah utara dan Balielik disebelah selatan.

Kampung Tjiloek disebelah barat daya dan Zee van Borneo disebelah timur.
Kampung Lempoejang terletak diantara T. Lempoejang dan T. Krasfak.

Terlihat jelas jalan yang menghubungkan antarkampung di distrik Pankalpinang yang ditandai dengan tinta berwarna merah.

Selanjutnya dalam peta Schet_taalkart van de residentie Bangka Samengesteld door K.F. Holle Tahun 1889.

Dalam peta ini pulau Bangka terbagi menjadi sepuluh distrik. Pangkal Pinang sebagai salah satu distrik dengan membawahi empat underdistrik yaitu Pangkal Pinang, Boekit, Mendo Barat, dan Penagan.

Dalam peta ini, Lempuyang termasuk underdistrik Boekit yang dipimpin oleh Batin Boekit.

Dari tiga peta yang disampaikan diatas dapat diketahui bahwa rentang tahun 1845-1889 (sekitar 44 tahun) Lempuyang merupakan sebuah kampung dibawah distrik Pangkalpinang dengan penduduknya mengandalkan alam dengan bercocok tanam sahang, sayur mayur dan berume menurut sistem kalender musim tanam.

Dikala tanaman sahang sudah tidak produktif lagi mereka menamam tanaman buah-buahan seperti nangka, cempedak dan lain sebagainya dilokasi tanam sahang tersebut yang lama-kelamaan menjadi kelekak.

Sementara itu untuk meneruskan siklus hidupnya mereka membuka lahan baru dengan menebas hutan yang akan ditanami sahang serta tanaman lainnya. Sistem bercocok tanam ini juga diiringi dengan perpindahan pondok sebagai tempat tinggal.

Menurut Mang Dahlan, dari Lempuyang penduduknya migrasi ke hutan Riding untuk membuka lahan pertanian dan membentuk pemukiman baru yaitu Gelase.

Di pemukiman baru ini penduduknya mengandalkan Aik Kering Minyak dan Aik Riding untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Sama halnya di daerah asal (Lempuyang), penduduk yang mendiami daerah Riding dan Gelase bercocok tanam.

Setelah bertahun-tahun mengolah tanah berkebun sahang dan sayur mayur serta beume penduduk di Riding dan Gelase pindah ke hutan Lelap Rumbia hingga akhirnya menetap di kampung Jelutung saat ini seiring dengan mulai dibukanya jalan raya penghubung Air Mesu sampai ke Namang.

Toponim Jelutung

Sebelum menjadi sebuah desa, Jelutung terdiri dari beberapa dukuh yaitu Dukuh Lempuyang, Dukuh Aik Jelutung, Dukuh Aik Gelase dan Dukuh Aik Rumbia.

Setelah menjadi sebuah dusun, Jelutung dan Cambai bergabung menjadi sebuah desa yang bernama Desa Cambai Jelutung. Jelutung menjadi Desa pada tahun 2004.(Profil Desa Jelutung)

Di ujung kampung ini terdapat aik yang berhulu di bukit Panjang (dalam peta Belanda Tahun 1931 dinamakan G. Pandjang) dan terus mengalir sampai membelah jalan raya Air Mesu sampai Namang.

Di lereng G. Pandjang dan hampir sepanjang aliran aik tersebut banyak dijumpai tanaman jelutung dengan nama ilmiah Dyera spp. sehingga oleh orang-orang tua pemukiman tersebut dinamakan Jelutung. (studi lapangan menyelusuri lereng bukit Panjang) Aik yang berhulu di G. Pandjang juga disebut dengan aik Jelutung. Aik ini tidak pernah kering meskipun kemarau panjang melanda.

Jelutung dalam Peta Belanda

Berdasarkan penelusuran peta tua (Stbl. 1912 No. 600), peta yang dikeluarkan oleh pemerintah Hindia Belanda tahun 1931 yang diterbitkan di Batavia, kondisi Jelutung bisa mempelajari secara detail.

Dalam peta ini Jelutung yang kita ketahui sekarang ini tertulis Djeloetoeng.

Djeloetoeng mempunyai wilayah pemukiman yang relatif lurus mengikuti alur jalan raya Pangkalpinang – Namang.

Di ujung selatan terdapat steneen waterpaspilaar dan aik kecil yang tidak berhulu di aik Djeloetoeng (tumbak) dan aik ini mengalir melintasi jalan sehingga terdapat duiker of doorlaat van steen (got kecil).

Tanaman rubber (karet) sangat dominan disekitar pemukiman warga (belakang pemukiman).

Persis ditengah kampung terdapat houten brug (jembatan kecil) dan stenen (jembatan batu) serta dua jalan setapak (voetpad).

Jalan setapak pertama mengarah ke G. Pandjang (sekarang jalan ke SD 3 Namang) dan jalan setapak yang kedua mengarah ke Lempuyang (sekarang jalan Laut).

Arah barat daya pemukiman warga terdapat G. Pandjang (T. 183) dan BT. Lawangkoeri (75). Ujung kampung arah ke Namang terdapat jalan setapak (voetpad) dimana jalan ini mengarah ke Bt. Lawangkoeri dan sebelum jalan setapak tersebut terdapat steneen kilometerpaal 21 (tiang pal Km, 21).

Arah barat daya juga terdapat Bt. Tangis (78) yang apabila ditarik garis lurus dari puncak bukit tersebut sejajar dengan Tempat Pemakaman Umum (Inlandsche graven).

Di dekat TPU terdapat rawa-rawa yang tidak berhulu/ tumbak/ resapan dan steenen (jembatan batu).

Dari ujung kampung 317 sampai ke TPU terdapat empat ijzeren paal van de tinwining dengan nomor 318, 319 320 dan 321. Dalam peta ini masjid belum dibangun.

Arah utara pemukiman warga diujung kampung terdapat pemandian umum dan sumber mata air (water paspilaar, 368) yang airnya dari hasil resapan perbukitan G. Pandjang dan bukit-bukit kecil di ujung pemukiman tersebut (tumbek).

Air tumbek ini mengalir sampai membelah jalan raya sehingga terdapat duiker of doorlaat van steen (got kecil).

Sebelah kiri jalan arah ke Pangkalpinang terdapat jalan setapak (voetpad) yang mengarah ke perkebunan regelm aangelegde pepertuinen (lada).

Selanjutnya jalan raya agak sedikit tikungan ke kiri dan terdapat bukit yang ditanami karet (rubber).
Bt. Tangis

Bt. Tangis dengan ketinggian 78 mdpl merupakan bukit yang terletak antara Bt. Djaban yang dipisahkan oleh rawa-rawa dan aik-aik kecil yang berhulu di Bt. Tangis dan Bt. Lawangkoeri (75 mdpl).

Untuk mencapai Bt. Tangis tidak ada jalan setapak sebagai penghubung.

Ketiga bukit diarah barat daya pemukiman warga yaitu G. Pandjang, Bt. Lawangkoeri dan Bt. Tangis tentu memiliki makna dan kisah tersendiri. G. Pandjang, dinamakan demikian karena memang Gunung ini (dalam legenda peta G merupakan singkatan dari Gunung) sangat panjang yang lebih panjang dari pemukiman warga.

Sedangkan Bt. Lawangkoeri menurut penuturan orang-orang tua, di Bt. Lawangkoeri merupakan tempat yang sangat ret atau angker.

Menurut cerita dari mulut ke mulut yang sering didengar oleh penduduk, hampir setiap pagi warga yang pergi menyadap getah karet (Bt. Lawangkoeri di sebelah kiri jalan setapak) selalu mendengar suara orang membuka pintu atau jendela dari atas bukit Lawangkoeri serta suara ayam berkokok.

Begitu juga saat sore menjelang malam. Akan terdengar suara pintu atau jendela dan kokokan ayam.

Di puncak Bt. Lawangkoeri seperti ada kehidupan layaknya manusia yang memiliki ayam dan memulai aktiftas pagi hari dengan membuka pintu atau jendela dan mengakhiri hari dengan menutup pintu atau jendela.

Kini misteri ini belum terpecahkan dan memang tegakan kayu di lereng maupun dipuncak Bt. Lawangkoeri tetap terjaga. (tras)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *