Sejarah Kota Pangkalpinang Oleh Ali Usman

PANGKALPINANG, TRASBERITA.COM — Toponomi Pangkalpinang berasal dari kata Pangkal dan Pinang. Pangkal merupakan tempat berlabuh kapal atau perahu di pinggir sungai yang kemudian berkembang menjadi pusat aktifitas masyarakat, baik ekonomi, agama, sosial, budaya dan politik. Pinang (Areca Catechu L) merupakan tanaman tropis yang tumbuh subur di Pulau Bangka dan buahnya menjadi komoditi perdagangan.

Pangkalpinang ini berada di tanah sempit antara Sungai Pangkalpinang dan Sungai Pedindang yang kemudian berkembang menjadi pemukiman baru imbas ditetapkan sebagai salah satu Pangkal di Pulau Bangka pada masa Sultan Susuhanan Ahmad Najamuddin Adi Kesumo dan Temenggung Dita Menggala (Abang Pahang) pada tanggal 17 September 1757. Saat itu Pulau Bangka sedang mengalami kejayaan penambangan timah, sehingga ada kebutuhan pembukaan pusat-pusat kontrol timah yang dipimpin para Demang.

Bacaan Lainnya

Pada masa Inggris (1812-1816) Pangkalpinang menjadi ibu kota Distrik Pangkal Penang yang dilengkapi benteng dan pusat penambangan timah. Saat itu berpenduduk 1.515 jiwa, terdiri dari orang China dan orang Gunung. Setelah diambil alih pemerintah Hindia Belanda, Distrik Pangkalpinang mencakup onderdistrik Pangkalpinang, Marawang, Mundo Barat, Mundo Timur, Bukit dan Penagan.

Tahun 1848, penduduk distrik Pangkalpinang sebanyak 6.694 jiwa, terdiri dari orang Bangka (68 %), Melayu (4 %) dan China (28 %) yang menyebar di 105 kampung. Dalam perkembangannya pada tahun 1898, Distrik Pangkal Pinang terdiri 4 onderdistrik yaitu Pangkal Pinang, Boekit, Mundo Barat dan Penagan. Onderdistrik Pangkal Pinang dimulai dari Selindung, Gabek, Pangkal Balem, Tuatunu, Pangkalpinang, Semabung, Pedada, Air Itam, Betur, Dul, Benteng (Air Mesoe), Sambong, Air Mesu dan Selinta.

Onderdistrik Bukit beribukota di Kampung Jelutung (Djeloetoeng) dan membawahi kampung Cambai, Pangkol, Celuak, Sungkap, Namang, Belilik dan Kurau (Koerouw).

Onderdistrik Mundo Barat dimulai Air Duren, Lukok, Kemuje, Zed, Titipuak, Payabenua, Pangkal Mundo dan beribukota di Petaling.

Onderdistrik Penagan beribukota di Kampung Dinding Papan dan membawahi Kampung Cengkongabang, Kace, Terak, Teru Beruas dan Rukem.

Pada tanggal 3 September 1913, ibukota Karesidenan Bangka berpindah dari Mentok ke Pangkalpinang dibawah kepemimpinan Residen A.J.N. Engelenberg (1913-1918).

Sensus Penduduk tahun 1920, Distrik Pangkalpinang berpenduduk 37.905 jiwa, terdiri laki-laki 22.277 jiwa dan perempuan 15.628 jiwa. Secara etnisitas terbagi dalam golongan pribumi (62,3 %), Oriental Asing (37,1 %) dan Eropa (0,6 %). 10 tahun kemudian pada tahun 1930, jumlah penduduk Onderafdeeling Pangkalpinang bertambah menjadi 51.893 jiwa, terdiri laki-laki 30.015 jiwa dan perempuan 21.878 jiwa.

Penggolongan etnisitas terdiri Pribumi (59,1%), China (40,2%), Eropa (0,5%) dan orang Asia lainnya (0,1%). Saat itu, onderafdeeling Pangkalpinang terdiri dari Onderdistric Mundo Barat, Pangkalpinang dan Soengislan. Posisi Pangkalpinang semakin penting mulai tanggal 11 Maret 1933 setelah ditetapkan sebagai ibukota Residentie Bangka en Onderhoregheden yang wilayahnya meliputi pulau Bangka, pulau Belitung dan pulau-pulau kecil disekitarnya.

Setelah Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada bulan Agustus 1945, Residen Masyarif Bendahara Lelo menyatakan bergabung ke Republik Indonesia, namun tidak bertahan lama karena Pulau Bangka kembali dikuasai Belanda pada bulan Februari 1946. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 1-12 Oktober 1946, pemerintah Hindia Belanda mengadakan Konferensi Pangkalpinang sebagai usaha membentuk Negara-negara bagian, terpisah dari Republik Indonesia, termasuk Pulau Bangka menjadi daerah otonom dan pemerintahan diatur oleh Dewan Bangka. Mulai tanggal 22 Desember 1948 sampai 6 Juli 1949, para pemimpin Republik Indonesia diasingkan di Mentok Bangka. Saat itu Pangkalpinang berperan sebagai pusat diplomasi internasional, tempat hilir mudik para delegasi berdatangan untuk menemui para pemimpin Republik Indonesia dan menjadi tempat pertemuan nonformal.

Semangat nasionalisme bergejolak kembali di kalangan masyarakat Bangka, dimana-mana pekik Merdeka terdengar. Pantaslah Presiden Sukarno mengatakan Dari Pangkalpinang Pangkal Kemenangan Bagi Perjuangan.

Pada tahun 1950, pemerintahan atas pulau Bangka diserahkan Provinsi Sumatra Selatan dan seluruh pulau Bangka ditetapkan sebagai wilayah Kabupaten Bangka. Berdasarkan UU Darurat No 6 Tahun 1956, Kota kecil Pangkalpinang didirikan dengan wilayah seluas 31,7 km², gabungan dari gemeentee Pangkalpinang dan Gemeentee Gabek. Luas wilayah Pangkalpinang jauh berkurang dibandingkan saat masih menjadi Onderafdeeling Pangkalpinang. Status Pangkalpinang naik menjadi Kotapraja berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1959, Kotamadya berdasarkan UU Nomor 18 tahun 1965 dan Kotamadya daerah Tingkat II pada tahun 1974.

Sensus pertama pemerintah Republik Indonesia tahun 1961, Pangkalpinang berpenduduk 24.358 jiwa, terdiri laki-laki 12.391 jiwa dan perempuan 11.967 jiwa. Jika dibandingkan dengan tahun 1930, jumlah penduduk Pangkalpinang berkurang seiring menyempitnya wilayah kota Pangkalpinang. Sensus kedua tahun 1971, penduduk Pangkalpinang mengalami lonjakan menjadi 74.733 jiwa, terdiri laki-laki 37.762 jiwa dan perempuan 36.971 jiwa.

Pertambahan penduduk nampak dalam sensus tahun 1980, saat itu penduduk Pangkalpinang mencapai 90.068 jiwa, terdiri laki-laki 45.322 jiwa dan perempuan 44.746 jiwa. Pada tahun 1984, luas Kotamadya Pangkalpinang bertambah menjadi 89,4 km² dengan bergabungnya Desa Air Itam, Tuatunu dan Bacang. Tentunya penambahan wilayah ini berdampak semakin bertambahnya penduduk pada tahun 1990 menjadi 114.108 jiwa, terdiri laki-laki 56.585 jiwa dan perempuan 57.523 jiwa.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbentuk berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2000 tanggal 21 November 2000 dan beribukota di Pangkalpinang. Terjadi penambahan luas wilayah kota Pangkalpinang dengan bergabungnya Selindung berdasarkan PP Nomor 79 tahun 2007, dari 89,40 km² menjadi 118,40 km². Kedua faktor ini memicu pertumbuhan penduduk dalam jumlah besar, seiring migrasi ke Pangkalpinang.

Jumlah penduduk tahun 2003 sebanyak 137.582 jiwa, terdiri laki-laki 70.128 jiwa dan perempuan 67.454 jiwa. Pada tahun 2010, bertambah menjadi 174.758 jiwa, terdiri laki-laki 89.500 jiwa dan perempuan 85.258 jiwa serta kepadatan penduduk mencapai 1.476 jiwa//km².

Kota Pangkalpinang memiliki luas wilayah 118,408 km2 atau hanya 0,72 persen dari keseluruhan luas wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Secara astronomis Kota Pangkalpinang terletak antara 02 03’-02 10’ Lintang Selatan dan 106 02’-106 12’ Bujur Timur. Kota Pangkalpinang berbatasan dengan Kabupaten Bangka di utara dan barat, Kabupaten Bangka Tengah di bagian selatan dan Laut Natuna Selatan di bagian timur. Terdiri 7 Kecamatan dan 42 Kelurahan yakni Rangkui (8 Kelurahan), Tamansari (5 Kelurahan), Gerunggang (6 Kelurahan), Bukit Intan (7 Kelurahan), Pangkalbalam (5 Kelurahan), Girimaya (5 Kelurahan) dan Gabek (6 Kelurahan).

Pada tahun 2021, jumlah penduduk Kota Pangkalpinang sebanyak 221.988 jiwa, laju pertumbuhan 10 tahun terakhir mencapai 2.19 persen dan kepadatan penduduk mencapai 2.126 jiwa/km².

Dari tahun 1956 sampai kini, sudah ada 15 orang memimpin Kota Pangkalpinang, baik status pejabat sementara maupun pejabat tetap.

Dimulai dari R. Supardi Suwardjo, (14-20 November 1956),

Achmad Basirun (20 November-15 Desember 1956),

Rd. Abdulah (1956-1958),

R Hundani (1958- 1960),

M. Saleh Zainuddin (1960-1967),

Rustam Effendi (1967-1973),

Roesli Romli (1973-1978),

Mohammad Arub (1978-1988),

Rosman Djohan (1988-1993),

Sofyan Rebuin (1993-2003),

Zulkarnain Karim (2003-2013),

Muhammad Irwansyah (2013-2018),

Asyraf Suryadin (15 Februari -23 Juni 2018),

Muhammad Sopian (16 Oktober -14 November 2018) dan

Maulan Aklil (15 November 2018-kini).(*/tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *