Seminar Sehari Inaker Babel: Perguruan Tinggi Swasta Jangan Sampai Tutup, Begini Paparan Warek Unmuh Babel

Seminar Sehari Inaker Babel di Gedung Sepintu Sedulang Sungailiat Kabupaten Bangka, Kamis (16/3/2023). Dari kiri ke kanan: Ketua PD Inaker Babel Abpul Ala Almaududi SH, Moferator Ichsan Mokoginta dan Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Babel Dr Pratiwi Amelia. (trasberita.com)

Editor: Bangdoi Ahada
BANGKA, TRASBERITA.COM — Perguruan Tinggi Swasta di Bangka Belitung harus terus meningkatkan inovasi dan kreatifitas dalam mengelolah sumber daya yang ada.

Tujuannya, agar tidak ditinggalkan calon mahasiswa.

Bacaan Lainnya

“Di berbagai daerah, kita mendengar banyak perguruan tinggi yang tutup, karena mahasiswanya semakin tahun semakin sedikit. Sementara kehidupan kampus perguruan tinggi swasta ini sebagian besar berasal dari mahasiswa,” ujar Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung Dr Pratiwi Amelia MPd BI, saat menjadi narasumber pada Seminar Sehari Indonesia Bekerja (Inaker) Bangka Belitung, di Gedung Sepintu Sedulang, Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (16/3/2023).

Selain menghadirkan narasumber Dr Pratiwi Amelia, seminar sehari yang digawangi Pengurus Daerah (PD) Inaker Babel ini juga menghadirkan Ketua PD Inaker Babel Ala Amaududi SH.

Seminar ini dipimpin moderator Ichsan Mokoginta, yang merupakan Redaktur Eksekutif TRASBERITA.COM, yang juga penulis dan pegiat sastra Bangka Belitung.

Dijelaskan Pratiwi, saat ini ada empat Perguruan Tinggi Negeri dan 13 Perguruan Tinggi Swasta di Bangka Belitung.

Setiap tahun ada sekitar 17.000 lulusan SMA, SMK dan MA.

Dari jumlah lulusan ini tidak semuanya melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi.

Sebagian bekerja disektor informal, dan sebagian lagi tidak kuliah karena keterbatasan ekonomi.

“Kita juga bersaing dengan perguruan tinggi di luar Bangka Belitung, yang sudah lebih dahulu eksis di negeri ini. Sehingga, perguruan tinggi di Babel harus pandai mengelolah SDM, dan juga harus mampu menghadirkan program study yang betul-betul dibutuhkan oleh calon mahasiswa, agar tidak ditinggalkan para calon mahasiswa,” ungkap Pratiwi.

Pasalnya, bukan rahasia lagi, jika banyak lulusan perguruan tinggi tidak mampu diserap dalam lapangan kerja yang ada.

Kondisi ini dikarenakan, program study yang dipilih mahasiswa tidak mengikuti kebutuhan lapangan kerja sesuai tuntunan zaman.

“Selain itu, ada juga mahasiswa yang ambil program study yang tidak mereka inginkan. Karena pengen kuliah, sehingga mereka ambil apa saja. Nah yang begini biasanya menjadi hambatan saat menjalani kuliah maupun pasca lulus,” tukas Pratiwi.

Dikatakan Pratiwi, perlu ada sinergi positif antara perguruan tinggi dengan stakeholder pendidikan.

Agar perguruan tinggi bisa menghadirkan kenyamanan saat masa perkuliahan dan kenyamanan masa depan saat lulus kuliah, maka perguruan tinggi swasta di Babel harus mengambil peran penting dengan cara meningkatkan kualitas SDM dan sumber daya kampus lainnya.

“Selain SDM yang terus dipompa kualitasnya, fasilitas juga menjadi penting mengikuti kebutuhan zaman,” tukas Pratiwi.

Strateginya, kata Pratiwi, manajemen atau pengelolah perguruan tinggi harus menjadikan perguruan tinggi sesuai kebutuhan pasar.

Jika kepastian yang diinginkan atau dibutuhkan para calon mahasiswa ada di perguruan tinggi tersebut, maka mereka merasa memiliki perspektif masa depan yang gemilang.

Narasumber lainnya, Ketua Inaker Babel Aboul Ala Almaududi menyoroti pentingnya generasi muda terlibat aktif sejak dini dalam dunia organisasi.

Organisasi yang baik, kata Abou, bisa menjadi wadah atau media lahirnya para pemimpin.

Karena itu, Perguruan Tinggi juga memiliki tanggungjawab untuk mengawal dan memfasilitasi para mahasiswa dalam menjalankan organisasi yang berkualitas, yang nantinya bisa menjadi wadah lahirnya para pemimpin bangsa.

Sementara itu, menyikapi banyaknya organisasi masyarakat (Ormas) yang belakangan mulai bermunculan, Aboul menyarankan setiap Ormas memiliki konsep dan program kerja yang jelas dan berkelanjutan.

“Ormas bisa menjadi mitra pemerintah dan juga mitranya masyarakat. Ormas bisa juga menjadi pendorong pemerintah dalam bekerja sesuai aturan yang berlaku, sehingga masyarakat bisa terlayani dengan baik,” ujar Aboul.

Ormas, lanjut Aboul, sejatinya tidak boleh mengemis kepada pemerintah maupun pihak-pihak lainnya.

“Ormas harus mampu berdiri sama tinggi dengan pemerintah, sehingga bisa sejalan dalam berkontribusi membangun daerah,” tandasnya.

Selain itu, Ormas juga harus mampu menjadi jembatan komunikasi atau jembatan asprirasi,  sehingga interaksi kebutuah masyarakat dengan pelayanan Pemerintah bisa disinergikan.

“Ormas harus produktif, tidak saja melalui pikiran tetapi, juga harus produktif melalui karya nyata,” tukas Aboul. (tras)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *