Stunting, literasi, dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Oleh : Devi Valeriani
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Bangka Belitung

Stunting, literasi, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi tiga isu yang kini menjadi sorotan dalam pembangunan sumber daya manusia di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Gizi yang cukup diyakini sebagai pondasi kecerdasan, literasi sebagai pintu peradaban, sementara MBG hadir sebagai intervensi negara untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Namun, bagaimana potret sesungguhnya di lapangan? Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama ini dikenal sebagai daerah kepulauan dengan potensi ekonomi dari kelautan, perikanan, tambang timah, pertanian, perkebunan dan pariwisata. Namun, di balik itu terselip tantangan serius dalam pembangunan manusia, terutama terkait gizi dan pendidikan.

Bacaan Lainnya

Stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar, terlihat dari data dinas kesehatan mencatat, prevalensi stunting di Bangka Belitung berada di angka 18,5 persen (2023), sedikit turun dari 18,6 persen pada 2022. Sebagai contoh di Kota Pangkalpinang, kasus stunting lebih menggembirakan, mengalami penurunan dari 16,7 persen (2021) menjadi 12,9 persen (2022), dengan target ambisius sebesar 9,16 persen pada 2024. Meskipun tren turun namun tantangan nyata masih ada.

Kondisi yang terdapat di Kota Pangkalpinang pada Tahun 2023 mencatat 81 kasus stunting, turun dari 128 kasus tahun sebelumnya, dimana terdapat 205 anak yang diidentifikasi sebagai prioritas penanganan dengan aksi yang dilakukan berupa bantuan sosial makanan tambahan untuk anak-anak penderita stunting 117 anak pada Tahun 2023, dan 100 anak di tahun 2024.

Para ahli mengingatkan, stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi juga berkaitan erat dengan kecerdasan. Penting untuk diingat bahwa stunting bukan hanya isu kesehatan semata, tetapi juga isu keadilan sosial. Anak-anak yang lahir dari keluarga miskin lebih rentan terhadap kekurangan gizi karena keterbatasan akses pangan sehat dan layanan kesehatan. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami keterlambatan kognitif, kesulitan belajar, hingga rendahnya produktivitas di masa depan. Dalam konteks inilah, program MBG hadir dengan janji mulia yaitu memastikan setiap anak sekolah mendapatkan asupan gizi bergizi setiap hari.

Inilah mengapa program MBG harus dipandang sebagai instrumen pemerataan, bukan sekadar program bantuan. Dengan MBG, negara hadir di meja makan anak-anak sekolah, dimana semua punya kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan cerdas. Bangka Belitung memiliki kondisi geografis kepulauan yang unik. Distribusi bahan pangan antar pulau tidak selalu mudah. Karena itu, keberhasilan MBG di Bangka Belitung menuntut strategi logistik yang lebih kreatif dan berbasis potensi lokal.

Di Kabupaten Bangka, program MBG menyasar puluhan ribu siswa, dengan anggarannya disebut mencapai lebih dari Rp 700 juta per hari dengan biaya makan per siswa Rp 15 ribu. Uji coba MBG dilakukan di sekolah-sekolah , untuk memastikan agar MBG berjalan sesuai prosedur dan kelayakannya. Program ini bukan tanpa catatan, di beberapa daerah di Indonesia, MBG diwarnai kasus keracunan massal. Kasus-kasus ini menjadi alarm bagi Babel agar pelaksanaan MBG tidak hanya mengejar target kuantitas, tapi juga menjamin keamanan pangan.

MBG sejatinya bukan sekadar makan gratis, namun merupakan strategi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Anak yang gizi hariannya terjamin cenderung lebih sehat, lebih fokus saat belajar, dan jarang absen karena sakit. Efek domino inilah yang diharapkan memperbaiki capaian akademik siswa Bangka Belitung. Namun, gizi saja tidak cukup, literasi menjadi faktor penting lain. Bangka Belitung patut berbangga karena berada di papan atas indeks literasi nasional.

Data Kementerian Dalam Negeri 2025 menempatkan Bangka Belitung di posisi ketiga nasional dengan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat 84,59.Perpustakaan daerah, sekolah, hingga komunitas literasi di Bangka Belitung aktif mendorong kebiasaan membaca. Program pemerintah melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan ikut memperluas gerakan literasi masyarakat. Dengan literasi yang kuat, masyarakat akan lebih mampu memahami pentingnya gizi, memilih makanan sehat, dan mendukung keberlanjutan MBG. Artinya Bangka Belitung memiliki dua modal besar yaitu literasi yang tinggi dan program MBG yang sedang berjalan.

Namun apakah kedua modal ini bisa benar-benar menekan angka stunting? Tantangan terbesar ada pada koordinasi. Program gizi, pendidikan, dan literasi sering berjalan sendiri-sendiri tanpa sinergi yang kuat. Padahal, stunting bisa ditangani lebih cepat jika program MBG disertai edukasi literasi gizi kepada orang tua, siswa, dan masyarakat. Dimana orang tua dilibatkan dalam penyuluhan tentang pola makan sehat, sanitasi, serta cara memanfaatkan bahan pangan lokal. Guru pun bisa dilatih untuk mengintegrasikan materi gizi dalam pembelajaran, sehingga anak tidak hanya makan sehat, tapi juga memahami pentingnya makanan itu bagi kecerdasan mereka.

MBG bisa menjadi jembatan antara sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi lokal. Dengan menggunakan bahan pangan dari petani dan nelayan Bangka Belitung, program ini sekaligus menggerakkan ekonomi keluarga. Menggunakan pangan lokal bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga soal kearifan lokal. Ikan laut, sayur mayur, dan hasil kebun lokal bisa dijadikan menu MBG yang sehat sekaligus murah. Ini akan membantu petani dan nelayan Bangka Belitung. Jika MBG dikelola dengan baik, tentunya akan menjadi pasar tetap bagi produk lokal. Nelayan tidak perlu risau menjual hasil tangkapan, petani merasa hasil panennya dihargai, sementara anak-anak mendapat makanan bergizi. Selain itu, keterlibatan masyarakat dalam pengawasan MBG juga mutlak diperlukan. Orang tua bisa diikutsertakan dalam sistem evaluasi mutu makanan, misalnya dengan membentuk kelompok pengawas di tiap sekolah. Jika dilaksanakan dengan baik, MBG berpotensi besar memperbaiki kualitas SDM Bangka Belitung yang akan menentukan daya saing daerah di masa depan. Namun, jika lalai, risiko keracunan atau mutu rendah justru bisa mengikis kepercayaan publik dan membahayakan anak-anak. Karena itu, transparansi, pengawasan ketat, dan sinergi program menjadi kunci agar stunting bisa terus ditekan, literasi terus ditingkatkan, dan pendidikan Bangka Belitung melahirkan generasi emas. Keterpaduan literasi dan gizi akan membentuk pola pikir baru di kalangan siswa, bahwa sehat dan cerdas adalah bagian tak terpisahkan. Anak yang membaca sekaligus anak yang makan sehat, itulah calon generasi emas.

Kita sama-sama mengamati apakah di Bangka Belitung mampu menjadikan stunting, literasi, dan MBG sebagai tiga pilar kokoh untuk mencetak generasi cerdas, sehat, dan berdaya saing tinggi? Pangkalpinang sebagai ibu kota provinsi bisa menjadi model kota literasi sehat. Jika MBG di Pangkalpinang berhasil, maka daerah lain akan lebih mudah meniru dengan menyesuaikan kondisi lokal masing-masing. Pemerintah daerah juga sebaiknya memanfaatkan momentum MBG untuk memperbaiki data gizi anak. Setiap kali MBG disalurkan, petugas bisa sekaligus memantau tinggi, berat badan, dan status kesehatan anak.

Data ini akan sangat berharga untuk evaluasi kebijakan. Lebih jauh, keberhasilan MBG di Bangka Belitung akan berkontribusi pada target nasional menurunkan angka stunting.

Bangka Belitung bisa menjadi contoh daerah kepulauan yang mampu mengintegrasikan gizi, pendidikan, dan literasi. Bangka Belitung sedang berada di persimpangan jalan, apakah akan memanfaatkan momentum MBG, literasi tinggi, dan tren penurunan stunting untuk benar-benar melompat maju? Ataukah justru terjebak dalam masalah klasik: program bagus tapi minim pengawasan, (*)

Pos terkait