Laporan : Belva
SUNGAILIAT, TRASBERITA.COM — Rabu pagi, 24 Desember 2025, Parit Padang masih menyimpan embun. Jalanan belum ramai, dan angin laut yang tipis membawa bau asin ke sela-sela rumah warga. Di sebuah rumah sederhana, dindingnya tidak sepenuhnya putih. Sebagian menjadi saksi bahwa ada warna yang mengering, ada garis yang belum selesai, ada bidang yang sengaja dibiarkan kosong. Di tempat itulah Talisno menyambut kami, seorang Guru Seni dan Budaya yang telah menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk menjaga seni tetap bernapas.
“Seni itu tidak pernah minta dipamerkan. Ia hanya minta dirawat. Kalau dirawat, ia hidup sendiri.” katanya pelan sambil menyeduh kopi.
Talisno lahir di Sungailiat, 28 Oktober 1966. Ia tumbuh di tanah yang sama dengan tempat ia mengajar hari ini. Ia mengenal Sungailiat bukan sebagai titik koordinat, melainkan sebagai lanskap emosi tempat anak-anak belajar berharap, orang tua bekerja dan seni sering kali bertahan dalam kesunyian. Secara administratif, ia adalah Pegawai Negeri Sipil dan kini aktif mengajar di UPTD SMP Negeri 5 Sungailiat. Namun di rumahnya, identitas itu menyingkir. Yang tersisa adalah tangan, warna dan waktu.
Ruang tamunya sederhana. Di atas meja, tersusun beberapa karya seperti lukisan burung-burung kecil berwarna merah-biru yang bertengger di dahan mangga, sepasang nuri merah menyala di depan air terjun, potret kucing dengan mata hijau tajam dan sebuah lukisan hitam-putih di dinding dengan air terjun malam hari dengan bulan menggantung. Setiap karya seolah menunggu untuk bercerita.
“Saya tidak memilih tema yang jauh-jauh. Saya memilih yang dekat dengan anak-anak. Burung, buah, kucing, air. Karena dari yang dekat, mereka belajar mencintai. Dari mencintai, mereka belajar menjaga.” ujar Talisno.
Ia lalu menunjuk lukisan burung-burung kecil di antara buah mangga. Warna hijau mangga tampak basah oleh titik-titik embun. Daun-daun digambar teliti, uratnya tegas, cahaya jatuh dari kiri. Burung-burung itu berwarna merah, kuning, biru dengan tidak statis. Ada yang mengepak, ada yang menoleh, ada yang bertengger diam.
“Ini saya buat untuk menunjukkan keseimbangan. Alam itu ramai tapi tertib. Burung tidak saling berebut, buah tidak iri pada daun. Anak-anak perlu melihat itu.” katanya.
Talisno tidak membatasi seni pada medium tertentu. Ia melukis di kanvas, karton, bahkan dinding rumah. Di sudut garasi, kami melihat bekas goresan hitam-putih dengan lukisan air terjun malam langsung di tembok. Air jatuh lurus, memantul ke kolam gelap. Bulan bulat menggantung di langit hitam, sementara bebatuan disusun dengan tekstur kasar.
“Kalau menunggu kanvas baru melukis, seni akan sering tertunda. Dinding ini juga jujur. Ia tidak pernah protes. Ia hanya menerima.” katanya sambil tersenyum.
Lukisan hitam-putih itu terasa meditatif. Kontrasnya tegas. Cahaya bulan memantul di permukaan air. Ada kesunyian yang menenangkan. Karya ini berbeda dari yang berwarna cerah menunjukkan sisi Talisno yang reflektif.
“Ini tentang jeda. Anak-anak juga perlu jeda. Tidak semua harus berwarna-warni. Kadang, diam itu yang menguatkan.” ucapnya.
Di atas meja lain, potret kucing dengan latar merah muda menatap ke samping. Mata hijau menyala, bulu digambar detail dengan arsiran halus. Di sampingnya, sebuah karya kecil kucing duduk lebih sederhana, hampir seperti latihan karakter.
“Melukis wajah itu melukis kesabaran. Satu garis bisa mengubah ekspresi. Anak-anak belajar bertanggung jawab pada satu garis itu.” ujar Talisno.
Ia juga piawai menggambar karikatur adalah jenis gambar yang menuntut keberanian membaca karakter dan melebih-lebihkan ekspresi tanpa merendahkan.
“Karikatur itu humor yang jujur. Kita tertawa, tapi tidak melukai. Itu etika seni.” tambahnya
Karya paling besar di ruang itu menampilkan dua burung nuri merah bertengger di dahan, berlatar air terjun dan pegunungan. Hijau daun tebal, buah-buah menggantung, air mengalir deras ke kolam biru. Komposisinya seimbang dua subjek utama berdampingan, tidak saling menutupi.
“Ini tentang kebersamaan. Mengajar itu juga berpasangan seperti guru dan murid. Tidak bisa saling meniadakan.” katanya mantap.
Teknik pewarnaan menunjukkan ketelitian. Transisi warna halus, tekstur daun kaya, cahaya terkontrol. Karya ini sering menjadi rujukan saat Talisno mengajar komposisi dan harmoni.
Perjalanan pengabdian Talisno dimulai 1990 di SMP Negeri 1 Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Fasilitas terbatas, alat seadanya. Namun di ruang sempit itu ia menemukan prinsip yang tidak pernah berubah.
“Kreativitas tidak menunggu alat lengkap. Ia menunggu keberanian.” katanya.
Pada 1993, ia pindah ke SMP Negeri 2 Sungailiat. Enam belas tahun di sana membentuk reputasi dan kedewasaannya sebagai guru seni. Kurikulum berubah, zaman bergeser, murid datang dan pergi. Keyakinannya tetap bahwa seni harus hidup di sekolah.
Sejak 2009 hingga kini, ia mengajar di SMP Negeri 5 Sungailiat, sekolah berakreditasi A di Jalan Jenderal Sudirman, Parit Padang tak jauh dari rumahnya. Jarak yang nyaris tanpa sekat itu menjadi simbol hidupnya.
“Kalau guru jauh dari murid, ilmunya sering ikut menjauh,” ujarnya.
Di luar jam sekolah, rumah Talisno berubah fungsi. Anak-anak datang membawa kertas, pensil, dan harapan. Tidak ada spanduk besar. Tidak ada janji instan.
“Saya tidak menjanjikan juara. Saya menjanjikan proses. Kalau proses dijalani, juara itu bonus.” katanya.
Dari ruang itulah banyak anak menjuarai lomba melukis. Piagam-piagam tersimpan rapi bukan untuk pamer, melainkan pengingat bahwa kerja sunyi tidak sia-sia.
“Saya bangga bukan karena pialanya. Saya bangga karena anak-anak berani mencoba.” ucapnya.
Di era digital, Talisno tidak menolak teknologi. Ia mengajarkan batas.
“Gawai itu alat, bukan pengganti tangan. Tangan yang kotor cat mengajarkan tanggung jawab. Layar tidak.” katanya.
Ia mengajak murid memahami proses: dari sketsa, kesalahan, perbaikan, hingga selesai. “Kesalahan itu guru pertama.”
Dalam wawancara ini, Talisno tidak banyak berbicara tentang dirinya. Namun setiap kalimatnya adalah perjuangan halus tentang nilai pengabdian.
“Saya ingin anak-anak tahu: seni itu bukan jalan cepat, tapi jalan jujur. Kalau seni jujur, hidup ikut jujur.” katanya.
Di Bangka, seni sering bertahan sebagai api kecil. Mudah padam jika tidak dijaga. Talisno adalah salah satu penjaganya di kelas, di rumah dan di dinding.
Menjelang siang, cahaya berubah. Bayangan bergeser di dinding yang pernah menjadi kanvas. Talisno merapikan kuas.
“Selama masih ada anak menggenggam pensil dengan harap, saya akan mengajar. Kalau suatu hari saya berhenti, biarlah karya-karya itu yang bicara.” katanya.
Talisno mungkin tidak dikenal nasional. Namun di Sungailiat, Mentok, dan Bangka Barat, namanya hidup di garis yang dulu gemetar kini mantap, di warna yang dulu ragu kini berani. Ia adalah guru seni yang menua bersama pengabdiannya telah membuktikan bahwa pendidikan dan kebudayaan tidak selalu membutuhkan sorotan besar. Cukup satu orang yang setia, satu ruang yang dibuka dan satu keyakinan bahwa seni layak diperjuangkan.
Dan selama masih ada dinding yang menunggu warna, Talisno akan tetap melukis dan mengajar di tanah yang ia cintai. (Tras)













