Laporan Investigasi Khusus: Belva Al Akhab, Reza, Kareka Yudi
TEMPILANG, TRASBERITA.COM – Di sebuah kampung kecil yang seharusnya tenang oleh suara burung dan angin pantai, Selasa (18/11/2025) muncul sebuah “kerajaan tanpa prasasti” yang dibangun bukan dari batu, melainkan dari karung-karung timah gelap.
Kerajaan itu memiliki satu tokoh sentral yang namanya berbisik di setiap warung kopi: Bahkti.
Ia bukan pejabat, bukan pengusaha besar, bahkan bukan orang yang tampak mencolok.
Namun, warga menyebut rumahnya sebagai tempat di mana hukum berhenti di pintu pagar.
“Di dalam sana, pasal cuma pajangan,” kata seorang warga dengan nada getir.
Menurut kesaksian warga, rumah Bahkti bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah pelabuhan sunyi bagi pasir timah tanpa surat.
“Karung-karung itu keluar masuk kayak angin malam,” ujar seorang tetangga. “Kalau kalian tanya polisi, angin itu mungkin tak terdaftar.”
Bahkti sendiri, ketika ditanya, menanggapinya dengan ringan:
“Aku cuma beli apa yang orang jual. Kalau banyak yang datang, itu kan rezeki. Soal surat? Ah di kampung, yang penting jalan dulu.”
Pernyataannya sederhana, tetapi menyimpan nada percaya diri yang hanya muncul pada mereka yang yakin tak akan disentuh tangan hukum.
Warga menggambarkan kendaraan Bahkti sebagai salah satu fenomena paling mengesankan di Tempilang:
semua mobil diperiksa, kecuali satu.
“Mobil dia jalan pelan saja, tak pernah diperiksa,” kata seorang narasumber lapangan.
“Entah mobilnya ada doa khusus atau memang jalannya sudah disapu bersih.”
Ketika hal ini disinggung, Bahkti hanya tertawa:
“Kalau diperiksa ya diperiksa. cuma mungkin mereka tahu aku bukan tipe yang bikin masalah.”
Sebuah jawaban yang lebih mirip dialog film mafia daripada klarifikasi warga biasa.
Ironi paling telanjang terletak di sebuah kampel di Tempilang: berdiri tepat di belakang mushola.
Dari depan terdengar adzan dan bacaan doa.
Dari belakang terdengar gesekan karung dan denting timbangan.
Warga menyebutnya sebagai potret paling jujur dari moral yang terbelah.
“Kalau ditanya, kita semua malu,” ujar seorang bapak di warung. “Tapi siapa berani bicara? Karung lebih berkuasa daripada kata-kata.”
Wawancara eksklusif dengan seorang pelaku lapangan di jaringan CV membuka catatan kelam yang penuh satire pahit:
1. Tujuh Tahun Bocor, Dua Tahun Resmi
“Yang masuk CV itu kadang tujuh ton,” katanya.
“Yang tercatat cuma dua. Sisanya? Ya, ikut angin. Tapi angin yang pakai baju seragam.”
2. Aon, Bansah, dan Telepon dari Oknum
Menurutnya, seluruh koordinasi tersusun rapi: Arahan dari Aon,
Instruksi tambahan dari Bansah, Validasi dari oknum melalui telepon.
Tidak ada form, tidak ada tanda tangan, tidak ada sistem. Tetapi ada komando.
3. Kapasitas 1.000 Ton: Jaringan yang Terlalu Besar untuk Disebut Kebetulan
“Aon itu bisa urus seribu ton sebulan,” katanya dengan mata kosong.
“Penjual tak usah takut katanya Satgas yang jaga.”
Kalimat itu mungkin terdengar seperti gosip, tapi semakin sering diulang, semakin terasa seperti kebenaran yang orang enggan mengakui.
4. Rp20.000/kg: Kompensasi yang Menghilang di Tengah Jalan
Kompensasi yang dijanjikan untuk penambang rakyat tak pernah jelas arahnya.
“Kadang bagi dua puluh ribu itu aja tak dapat,” katanya.
“Yang gede-gede itu lenyap. Lenyapnya lebih cepat dari air kolong habis disedot.”
5. Kasus 7 Ton yang Jadi 2 Ton
“Pernah tujuh ton masuk,” katanya.
“Yang tercatat cuma dua ton. Lima ton itu jalan sendiri. Mungkin punya kaki.”
Sebuah sindiran yang memotong lebih tajam daripada pisau.
Menurut narasumber, transaksi besar sering terjadi tanpa rencana.
“Tiba-tiba malam ada panggilan, barang masuk tujuh ton,” ujarnya.
“Kalau tak cepat dibagi, ricuh. Kalau sudah ricuh, biasanya ada kapal, ada laut, ada Satgas.”
Ia menatap meja sebelum melanjutkan:
“Kalau Satgas diajak ke tengah laut, itu biasanya malam panjang.”
Ketika ditanya mengenai dugaan alur dari kampel ke rumahnya, Bahkti menjawab:
“Aku cuma penutup lubang kecil di jalan besar. Kalau mau tutup semua, jangan mulai dari aku. Mulailah dari mereka yang punya kapal.”
Jawaban itu terdengar seperti pengakuan, tetapi juga tamparan pada struktur pengawasan negara.
Dalam konstruksi jaringan ini:








