Toponim Desa Munggu, Berawal dari Sapaan “Monggo Monggo”

Penulis: Meilanto
Penulis dan Pegiat Sastra dan Sejarah Bangka Tengah 
BANGKATENGAH, TRASBERITA.COM — Dahulu, Desa Munggu hanyalah sebuah hutan belantara dengan jalan setapak yang menjadi jalur lalu lintas bagi orang-orang yang hendak bepergian dari Desa Lampur menuju ke Desa Bangkakota atau sebaliknya.

Di tengah hutan yang luas tersebut tinggal satu keluarga yang berasal dari Pulau Jawa.

Mereka berkebun tanaman nanas, pisang dan ubi kayu. Setiap kali orang melintasi jalan di depan gubuk keluarga tersebut, mereka selalu ramah menyapa dengan sapaan Jawa, yakni”monggo, monggo” yang berarti silakan.

Kemudian lama-kelamaan menyebarluas kabar bahwa hutan belantara yang dihuni oleh orang Jawa tersebut adalah kawasan yang subur untuk berkebun.

Banyak orang dari berbagai penjuru Bangka yang berbondong-bondong berkebun dan menetap di sana sehingga membentuk sebuah perkampungan.

Oleh warga setempat, perkampungan itu diberi nama “Munggu” yag berasal dari kata “monggo”.

Hal ini dikarenakan lidak orang Bangka tidak terbiasa menyebut kata “monggo” sehingga perlahan menjadi “munggu”.

Jika mengacu pada penamaan tempat di Pulau Bangka yang spesifik kepada penamaan pada tumbuhan yang banyak tumbuh di daerah tersebut, maka kata ‘munggu’ merujuk pada nama salah satu jenis tumbuhan yaitu kayu munggur.

Kayu dengan nama nama latin Samanea saman memiliki nama daerah yaitu suar, Kihujan, Baujan, Kayu-ambon dengan nama perdagangan kayu Trembesi atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan Rain Tree (kayu hujan).

Topografi

Munggu merupakan pemukiman penduduk yang berada di perlintasan Lampur – Bangkakota atau sebaliknya. Desa ini tergolong desa baru.

Menurut Pak Nastan, pada tahun 1977, anggota pramuka melakukan kemah bakti membuka akses jalan bersama dengan warga sekitar.

Akses jalan tersebut sampai tembus ke jalan Bangka Kota. Jalan setapak diperlebar.

Saat itu Munggu masih berupa kebun-kebun warga dengan pondok kebun yang berjauhan satu sama lain.

Antara pondok yang satu dengan yang lainnya dipisahkan oleh kebun seperti sahang, sayur, ume, karet dan lain sebagainya.

Topografi Desa Munggu dalam peta tahun 1932 D D 30,31 (Stbl. 1912 Nomor 600) yang berjudul Boekit Serdadoe, memuat beberapa nama tempat yang termasuk ke dalam wilayah Desa Munggu maupun Desa Bangkakota yang berada di sebelah timurnya, yaitu Bt. Titiakar (37), Kk. Saboeng, Bt. Rekrek 43,7), S. Galang, S. Bindoe, Bt. Patrie (6,7), Kk. Katoep, Bt Pateh (38,2), S. Kamboek, A. Betoer, A. Betoeng, Bt. Batoe, (56), S. Pasir, S. Tawar, A. Poelau, Kk. Batoemerah, dan Bt. Serdadoe (34).

Kenampakan alam dalam peta tersebut masih berupa regelm. aangeledge pepertuinen (kebun sahang), schaars bewoonde streken (daerah yang jarang dihuni), ladang (tijdelijke nederzettingen met droge rijstvelden) atau ladang atau ume dengan pemukiman sementara, rubber (hutan karet), bosch (hutan), kreupelhout (semak-semak), bamboebosch (rumpun bambu), moeraspalmen (tanaman daerah rawa-rawa), Alangalang, dan drasland (lahan basah) serta beberapa jalan setapak (voetpad) yang menuju ke kebun maupun menghubungkan daerah yang satu dengan yang lainnya.

Terlihat jelas garis Onderafdellingsgrens (garis batas) yang mengikuti alur sungai Galang, sungai Pasir, Air Betoeng, dan sungai Tawar.

Selanjutnya penulis mencoba mencari tahu dan mencocokkan nama-nama tempat pada peta tersebut dengan kondisi di lapangan saat ini dengan penduduk Desa Munggu.

Salah satu warga yang penulis tanyakan adalah Bu Nur Saumi, seorang guru yang tinggal di Desa Lampur yang merupakan putri desa Munggu.

Nama-nama tempat yang penulis tanyakan yaitu : Bukit Serdadu, Kelekak Batu Merah, Air Betung, Bukit Rekrek, Bukit Titiakar, Sungai Galang, dan Kelekak Sabung.

Selanjutnya penulis mendapatkan konfirmasi dari beliau.

Dari nama-nama tempat yang penulis kirimkan ada beberapa tempat yang masih dikenali atau namanya masih melekat dalam memori warga.

Yaitu Bukit Serdadu sebelah kanan jalan menuju Bangka Kota, Bukit Rekrek, sekarang menjadi salah satu pemukiman penduduk di Munggu dan simpang menuju ke Rekrek dikenal dengan nama Simpang Rekrek.

Jalan ke Rekrek satu-satunya jalan darat untuk sampai ke Dusun Pangkalraya.

Kelekak Sabung berada di Rekrek dan Sungai Galang, sungai yang melintasi jalan raya Munggu – Bangka Kota.

Sementara itu nama yang lain sudah tidak dikenali lagi atau mungkin sudah berganti dengan nama yang lain. (*/tras)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *